Jumat, 01 Desember 2017

Kita (pernah memulai, lalu selesai)

Tuan, ijinkanku merayakan patah hati dengan tulisan yang diketik oleh kedua ibu jari dilayar ponsel pribadi.

Ini perihal kita, yang pernah memulai-lalu-selesai.

Kita adalah ego paling keras yang saling berlawanan menyembunyikan kerinduan, lalu mengatasnamakan kebencian, padahal kita, aku dan kau hanya membutuhkan satu hal; mengikhlaskan.

Kita adalah amarah yang belum sempat diluapkan. Menjadi satu, menjelma keasingan yang kita simpan dalam tiap-tiap makna kesendirian.

Kita adalah sepi yang berusaha meramaikan isi hati. Menghibur diri dengan ketawa-ketiwi berharap semesta mengilhami, bahwa kita butuh obat pengusir sedih.

Kita adalah takdir yang berkata lain. Berusaha menggapai opini-opini tentang hidup bersuami istri, tapi nyatanya berakhir dengan hubungan yang lamanya bisa dihitung jari.

Kita adalah jarak yang memisahkan. Meminta kepada Tuhan agar kilometer dapat mendamaikan suasana ketika kekasih jauh dari pandangan mata, kemudian Tuhan memutuskan untuk menjauhkan kita selamanya.

Kita adalah angkuh yang tersimpul dalam masing-masing tubuh. Menunggu dihubungi terlebih dahulu, hanya karna kita ingin tahu siapa yang benar-benar salah dengan mengakui penyesalan dan beribu kecewa.

Kita adalah apa yang pernah disemogakan dalam setiap doa. Meminta kepada yang Maha agar selalu bisa diberikan kesempatan untuk bersama, namun sayang sekali rencana-Nya menyuruh kita berjalan sendiri-sendiri.

Kita adalah dua manusia yang sempat jatuh cinta. Dulu, sebelum kau memutuskan untuk pergi, lalu aku yang kini betah merawat kesepianku sendiri.

Kita adalah setia yang tertunda. Berjanji untuk sehidup semati, tapi mengingkari dengan maksud menyelamatkan hati.

Kita adalah perkenalan yang terlalu cepat, lalu berakhir dengan cara yang tidak tepat.

Kita adalah awal yang selesai ditengah jalan. Akhir yang dirancang akan bahagia, lalu tamat begitu saja dengan alasan sudah tidak cinta.

Naif.

Tak apa. Siapa yang ingin hatinya terluka lebih lama ? Tak ada. Tak akan pernah ada yang ingin hal demikian. Maka lepaskanlah, sebelum luka semakin menganga.

Sabtu, 04 November 2017

Apa yang kau rindukan dari malam minggu ?

"Aksaraya" panggilnya dengan tenang.

"Iya ?" jawabku pelan. Kala itu, bibirku sangat dekat dengan telinganya.

"Apa yang kau inginkan dari malam minggu ?" dia mulai membuka pertanyaan. Kau harus tahu, tuanku ini adalah lelaki yang menyimpan banyak pertanyaan tak terduga. Tapi tenang saja, jawabannya selalu mudah, hanya dibeberapa penghujung ketika kau mendengar pertanyaannya kau akan dibuat bingung atau bahkan senyum-senyum.

"Inginku, kamu." Jawabku singkat.

"Aku tidak memintamu merayuku, aku memintamu menjawab pertanyaanku." Balasnya seraya menggoda.

"Kau boleh menganggapku merayu, tapi kau juga harus tahu, bahwa hal itu yang benar-benar ingin aku katakan." Ucapku membela diri, tapi aku benar-benar hanya ingin kamu.

"Baiklah. Terimakasih rayuannya, nona si tukang ngambek sejagat raya haha." Dia meledekku dari spion kirinya, kemudian menatapku lama.

"Sama-sama, tuan haha. Kalau kau, apa yang kau inginkan dari malam minggu ?" Aku balik melempar pertanyaan.

"Inginku, selalu bisa melihat senyummu. Kapanpun dan dimanapun." Ucapnya sembari melemparkan senyum.

Saat itu, duniaku jungkir balik, serasa roda kehidupan selalu memutar kebahagiaan. Tak peduli pedih yang dialami, kata-katanya membuatku mabuk kepayang.

"Ah, tuan ini bisa saja." Ucapku dalam hati. Lalu kemudian aku semakin mengeratkan pelukan.

"Kalau malam minggu ini malam minggu terakhir untuk kita, apa yang kau rasa ?" Tanyanya, lagi.

Aku mengernyitkan dahi. Sudah kubilang, pasti ada pertanyaan yang akhirnya membingungkan. Seharusnya aku tak perlu kaget, aku telah mengenalnya lama, telah banyak pertanyaannya yang ku jawab, telah banyak juga jawaban ia yang ku tanggapi. Tapi, kali ini, mengapa udara malam serasa menyeramkan. Rasanya ada bau-bau debu bercampur asap kendaraan, ada tanda-tanda kehilangan yang harus diikhlaskan, ada diriku yang harus kuat menghadapi takdir Tuhan.

"Aku tak suka pertanyaanmu yang ini, bahkan aku tak punya jawabannya." Jawabku kesal mendengar pertanyaannya.

"Ibuku bilang, setiap pertanyaan selalu punya jawaban, sayang. Hanya saja tingkat kesulitan sebuah pertanyaan yang kadang jawabannya tidak ditemukan." Jelasnya.

Aku hanya terdiam, lalu melepaskan pelukan.

"Lalu, apakah pertanyaanku terlalu sulit untuk kau jawab ?" Dia membujukku.

"Sangat sulit, Satir. Kau harus tahu satu hal, bahwa ada beberapa pertanyaan yang jawabannya lebih baik dipendam, tak lain untuk menghindarkan pertanyaan lain yang lebih membingungkan atau bahkan menyedihkan. Aku tak suka sedih, kau pun tahu itu." Jawabku memprotes.

"Tapi, kau hanya perlu menjawabnya. Setelah itu aku tak akan bertanya lagi."

"Baiklah kalau kau memaksaku untuk menjawab. Sebenarnya ini adalah pertanyaan tersulit yang harus ku jawab. Semoga segala firasat burukku tak ada hubungannya dengan pertanyaanmu. Aku benci kau buat pikiranku mendadak khawatir."

"Kalau malam minggu ini malam terakhir untuk kita, aku akan meminta pada Tuhan untuk memperpanjang waktu atau sedikit membuat beku waktu pada hal-hal yang menyenangkan ketika bersamamu, seperti membekukan senyummu ketika mencuri tatapan mataku dikaca spion motormu. Tapi, ku rasa, Tuhan selalu baik dengan rencananya. Jadi Tuhan tak akan menjadikan malam minggu ini malam terakhir untuk kita." Setelah menjawab pertanyaannya, mataku tiba-tiba panas, lalu berair, airnya deras, meluncur ke pipi, lalu ke mulut, sesekali tak sengaja ku telan.

"Tapi, Tuhan menyuruhku pulang malam ini."
Tuanku penuh ketidakdugaan.

"Salah. Tuhan menyuruhmu selalu menemaniku." Aku kembali memeluknya. Erat sekali. Serasa tak ingin ia pergi barang sedetikpun dari hidupku.

"Raya, segala kehendak Tuhan terutama tentang kepulangan ke sisinya, tak bisa diganggu gugat. Semuanya sudah pasti akan terjadi." Dia menjelaskan dengan suara yang terdengar lemas.

"Aku tak mau dengar kata-katamu lagi."

"Hey, puanku tak boleh cemberut begitu. Nanti aku malu dengan orang-orang, masa bisanya bikin kamu cemberut sih. Aku kan maunya bikin kamu senang terus." Ucapnya menggodaku.

"Satir, aku tak suka berita kematian. Dulu, ketika ayahku pergi lebih dulu, aku mengurung diri dikamar berhari-hari. Seperti tidak menerima kenyataan, kenapa Tuhan secepat itu menyuruh malaikat maut menjemput ayahku. Ibuku, susah payah menahan tangis ketika hendak membujukku keluar kamar. Kantung mata ibu tebal, setebal kerinduannya pada ayah. Jenaka, adik laki-lakiku selalu menanyakan ayah ketika malam hari tiba. Aku benci kehilangan seseorang yang telah banyak memberikanku kenangan." Air mataku semakin deras, kali ini ditemani oleh sesegukan didada.

"Maaf kalau nanti aku termasuk seseorang itu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu melebihi keinginanku bersamamu sepanjang waktu malam minggu. Aku pasti akan rindu malam minggu bersamamu. Percayalah."

"Sekarang tak usah menangis, kalau kau benci kesedihan, aku juga benci air matamu." Lanjutnya membuatku sedikit tenang.

Aku terdiam. Hidungku perih menahan air mata yang hendak jatuh lagi. Aku mengubur pikiran buruk tentangnya. Ibuku bilang, sesuatu yang terjadi didunia, sebagian disebabkan oleh pikiranmu tentang kenyataan di depan, sebagiannya lagi kehendak Tuhan yang memang telah ditetapkan. Jadi, aku memilih berhenti memikirkan apapun, selain tetap memeluknya.

Sepanjang perjalanan kami saling diam, kadang aku meliriknya dari kaca, ku lihat matanya semakin sayu, seperti sebentar lagi tertutup. Sesekali aku memanggil namanya, tapi tak ada jawaban apa-apa. Barangkali suaraku kalah dengan suara klakson kendaraan, ku kencangkan panggilanku, masih tidak ada jawaban.

Lalu, pada detik kesekian, ku lihat matanya mengedip, ku lihat didepan kami ada bis pariwisata melaju kencang sekali.

"Satirrrrrr awasssss" Aku teriak, tegang sekali.

"Aaaaaaaaaaaaa" Satir pun teriak sekencang-kencangnya.

BRAKKKKK !

Mataku melihat Satir terpental jauh sekali. Ingin meraih tangannya, tapi akupun lemah diposisi tergeletak dijalan raya, dalam hitungan menit aku menutup mata, lalu tiba diruangan dengan jarum infus dilengan, juga banyak luka disekujur tubuh dengan banyak noda darah diatasnya.

"Sayang, apa yang kau rindukan dari malam minggu ?"

Aku mendengar suaranya setelah berusaha susah payah membuka mata. Setelah berhasil melihat seisi ruangan, aku mendapati tubuhnya mengenakan setelan putih, bersih sekali, kadang bersinar. Tuanku tampan pada saat itu.

Sedetik ketika aku mengedipkan mata, tubuhnya hilang. Lalu, ku sambut kesadaranku dengan tangisan.

Ku jawab pertanyaannya pelan-pelan.

"Aku rindu suara motor klasikmu didepan rumahku, keberanianmu meminja ijin kepada ibu untuk pulang tepat waktu, pegangan tanganmu ketika menyuruhku mengeratkan pelukan, gerak-gerikmu mencuri senyumku, dan aku rindu menjawab pertanyaan yang kadang menjengkelkan." Tubuhku kaku setelah menjawab pertanyaannya.

•••••••••

Tepat pada malam ini, Satir pergi meninggalkanku. Malam minggu yang kelabu, ku sebut itu ketika kehilangan sosoknya.

Satir, aku rindu malam minggu bersamamu.

Selasa, 14 Maret 2017

Tentang kepergian

Aku ingin bercerita.
Tentang puan yang ditinggal pergi tanpa permisi.
Tentang diri yang belum mampu melepas kepergiannya lebih jauh.
Tentang rindu yang makin hari makin menggebu.

Begini.
Ini tentang kepergian tuan, laki-laki si pemilik rambut sebahu, laki-laki yang banyak membuat tertawa dengan lelucon yang kadang tidak begitu lucu, laki-laki si penyimpan banyak cara untuk menghiburku; puan yang hidupnya ngeluh melulu, dan laki-laki yang sempat ku pastikan ia adalah yang tepat, tapi ternyata tidak juga. Memang, hidup itu apa-apa yang belum tentu.

*****

Ia memutuskan untuk pergi, sementara aku masih berharap ia kembali. Bodoh memang, tapi merelakan tak semudah itu, tuan.

Kemudian, ia pergi karena alasan untuk bisa memahami mereka yang membenci tentang kita, sedangkan aku ingin ia hanya selalu ada untukku. Egois memang, namanya juga terlanjur sayang.

Lalu, ia benar-benar berubah, sementara aku masih ingin ia yang dulu. Salah kalau aku rindu sikapmu kala pertama kali kita bertemu ? Tidak, kan?

Selanjutnya, ia memutuskan untuk melupakan, sedangkan aku masih betah dengan kenangannya. Lucu. Tapi melupakan tak semudah bahagia karena kenangan yang kamu buat, tuan.

Terakhir, ia pamit untuk meninggalkan, sementara aku terpuruk menyaksikan perjalanannya yang semakin lama semakin jauh.

Tubuhnya hilang, kenangannya belum.

*****

Hari-hari berlalu. Semakin mengingat kepergianmu, semakin sesak dadaku. Tetapi, semakin ingin melupakan, semakin itu pula kenangan kuat dalam ingatan.

Aku-susah-payah.
Aku-jatuh-terlalu-jauh.
Aku-elegi-patah-hati.
Melupakanmu, adalah definisi sakit yang harus segera disembuhkan. Secepatnya. Semoga mampu.

Terimakasih, kepergian.
Karenamu, malam hari terasa lain dari biasanya. Terlalu berat memang, tapi hidup tetap berjalan dengan atau tanpamu.

Selasa, 30 Agustus 2016

Selamat datang, mahasiswa baru.

Selamat datang, mahasiswa baru.
Selamat memijak di dunia lain, di dunia yang bukan lagi main-main, di dunia yang kau sebut asyik tapi nyatanya pergi ke tempat nongki saja tak berani.
Selamat belajar di tempat yang baru, di kursi layaknya bioskop kesayangan anda, di ruangan yang cukup untuk kau mengenal satu sama lain atau kalau kau mau mencari pengganti kekasih yang kau putuskan karna alasan “kamu terlalu baik buat aku”  ku rasa bisa saja, asal doa dan pendekatan yang apik yang kau beri.

Selamat mengenal banyak teman yang sifatnya tak lagi kekanak-kanakan, selamat berteman dengan anak rantauan yang merangkap anak kostan yang kalau tanggal tua sering mengkonsumsi promag dan jelly drink untuk penunda lapar. Tapi tenang saja, lapar mu akan menjadi indah.

Selamat datang di lingkungan baru, jangan kaget kalau tugas berkembang biak dengan cepat, jangan takut kalau presentase maju pertama kali, jangan sedih kalau kau tak paham ilmu akuntansi dan kawan-kawannya, jangan ngantuk karena sudah pasti waktu mu pertama kali masuk pagi dan pulang saat tenggelamnya matahari, dan yang terakhir jangan mengeluh karena sudah banyak titipan doa yang orantua pinta agar anaknya bisa menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia.
Selamat mencari pengalaman di Universitas Trilogi. Kau harus mencoba aktif di dunia organisasi dan unit kegiatan mahasiswa yang telah disediakan, karena sebagai mahasiswa kuliah-pulang-kuliah-pulang adalah hal yang monoton, adalah hal yang tidak dapat menunjukan kuliah-itu-asyik tapi tetap aja gak seasyik sinetron di televisi.
Selamat bergalau-galau ria ketika hasil Ujian Akhir Semester tidak sesuai apa yang kau inginkan, jika kau berusaha semuanya pasti bisa, kalau tetap tak bisa berarti ada yang kurang, antara kurang usaha atau kurang berdoa. Tapi, tenang. Semua akan baik-baik saja.

Terakhir. Selamat menempuh setiap perjalanan demi perjalanan selama 4 tahun atau lebih, menikmati setiap proses dari pengenalan kampus sampai kau resmi menjadi bagian dari almamater biru tua kesayangan pemiliknya, menikmati setiap kejadian dari yang lucu sampai kau lelah sendiri untuk melanjutkan cerita yang bukan lagi mimpi.
Selamat membuktikan kepada semua yang sudah percaya bahwa kau mampu pakai toga dan orangtua mu tak sia-sia mencari setiap lembar rupiah untuk biaya anaknya selama kuliah.

Sekali lagi, selamat datang mahasiswa baru. 

Selasa, 07 April 2015

Untuk Setenta Uno



Untuk teman seperjuangan;


Selamat membaca, kalian  pemakai seragam khas biru yang sebentar lagi pensiun.

Akan lebih syahdu jika membaca sambil mendengar lagu Sheila On 7 - Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Untuk kalian, Setenta Uno. Untuk sekadar kenang.

Hanya mengingatkan. Sebentar lagi yang benar-benar kehidupan baru dimulai. Tentang arti perjuangan, tentang arti kehidupan, tentang tak ada lagi rasa malas, rasa bodoamatan.
3 hari dibulan April nanti, perjuangan selama sekolah akan diperhitungkan. Sudah siap ? Harus siap ! Kita bisa !

 Satu bulan lagi masa putih abu-abu pergi, dan mungkin tak akan kembali. Kita akan mendatangi masa dimana kita akan berdiri sendiri. Tanpa genggaman hangat yang menguatkan, tanpa nasihat yang membangkitkan, tanpa senyuman yang mengobatkan.

Teman, jangan lupakan kenang.
Tentang kita yang susah-senang bersama, tentang hukuman yang diberikan guru, tentang keseruan saat perayaan hari lahir kepsek dan masih banyak ketentangan yang harus dikenang.

Teman, jika ada dendam diantara kita tolong dimaafkan dan dilupakan.
Maaf untuk setiap egois yang melukai hati kalian, untuk setiap kata-kata yang menggores luka, untuk setiap rasa mementingkan diri sendiri dan untuk kekhilafan apapun, tolong dimaafkan.

Teman, terimakasih untuk setiap kebahagiaan yang kalian berikan, untuk setiap cinta yang kalian tebarkan hingga antara kalian merasakan kasmaran-dilema-galau.
Terimakasih untuk setiap rasa peduli saat diri tak mampu lagi berdiri, untuk setiap lelucon yang kalian tampilkan saat hati lirih, saat hati putus dengan kekasih.

Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk selalu seperti hari ini. Masih dengan sosok masing-masing dengan sifat yang lebih baik.
Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk selalu meneruskan rencana, menggapai asa lalu bahagia atas semuanya.
Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk memperkenalkan anak-anak kita kelak, semoga mereka senang untuk selalu bersua bersama. Seperti kalanya kita.
Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk selalu mengenang akhir dari masa sekolah.

*****

*pesan; mari semangat lagi ! ingat pesan Ibu/Bapak guru. Selamat berjuang ditanggal 13 April nanti. Deg-degan, ya ? Sudahlah santai saja. Jangan takut. Ada tangan ada sikut. Bukan begitu burung perkutut ?hehe. Selamat belajar keras, kalian.

Kamis, 02 April 2015

Edelweis Untuk Edelweis


    Cahaya matahari masih setia masuk ke cela-cela jendela kamar milik perempuan bernama Edelweis Flora. Ia menyinari sepasang mata yang sayu akibat begadang menonton pertandingan bola kesayangannya. Cahaya memantul hidung mancungnya yang berminyak ketika kukuruyuk ayam membangunkan. Bibirnya menguap lebar sisa lelah semalam. Dan ia tampak cantik saat bangun pagi.

Ia melihat sekitar dinding kamarnya. Banyak foto bunga abadi dari kekasihnya. Ia menyukai bunga yang namanya sama dengan namanya. Edelweis.
Ia melihat lagi sekeliling kamarnya. Masih memperhatikan dindingnya. Banyak harapan yang dituliskan didinding kamarnya. Salah satunya adalah harapan untuk sembuh dari penyakitnya.

   Pagi ini bahagia menghampiri dirinya. Tim bola kesayangannya menang dari pertandingan semalam pun ada bahagia yang lain: ini hari jadi ia dengan kekasihnya.
Di setiap hari jadinya, biasanya pagi hari atau tepat jam 12 malam lelaki yang ia cinta datang kerumahnya. Mengetuk pintu kamarnya, lalu memberikan ia foto bunga abadi kesukaannya, pun senja dan matahari terbit kala menyapa puncak gunung manapun. Tapi tidak untuk pagi ini. Pagi yang seharusnya bahagia.


******
‘Elang kemana sih dari kemarin belum ngabarin, mau kasih kejutan kali ya, kan hari ini anniv dua tahun.’ Ia berbicara dengan kembarannya di cermin, menggerutu kesal karna lelakinya belum mengabarinya hingga kini.
Ia melihat handphone nya. Banyak notification ucapan selamat hari jadi dari temannya dan teman lelakinya. Tetapi, bukan ucapan dari temannya yang ia tunggu melainkan ucapan hari jadi dari kekasihnya. Tapi tidak ada.
Edel memutar music di laptop merah miliknya. Payung Teduh tentunya. Ia selalu suka dengan petikan gitar yang dialunkan vokalis, selalu nyaman dengan gesekan bass betot yang dimainkan pun alat musik lain yang menghadirkan perpaduan lagu yang membuatnya tenang.

Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan sedang berputar di laptopnya pun diingatannya. Ia ingat saat kekasihnya menyanyikan lagu itu dengan gitar saat hari jadi yang ke satu tahun. Memberikan foto edelweis tentunya.

Elang Malik adalah lelaki yang setia memberikannya foto bunga abadi kesukaannya. Ia adalah seorang pencinta alam dan pencinta perempuan yang menyukai bunga abadi itu.
Edel menghampiri foto yang tertempel didindingnya. Ia menjumpai satu foto yang disertai tulisan apik disana. Mengingat ingatan tentang foto itu. Foto itu adalah foto saat Elang menyatakan perasaan kepadanya, Elang memberikan ia seikat bunga edelweis yang ia beli di gunung bromo saat ia berkunjung kesana. Foto itu membuat ia senyum tersipu malu.

******
    Di tempat yang lain, Elang sedang memotret banyak foto edelweis untuknya. Menghampiri setiap edelweis. Gatal ingin memetik pastinya. Tapi ia urungkan niatnya itu.
Ia menulis satu paragraph di lembar foto hasil kamera polaroidnya itu. Di setiap foto untuk Edel ia selalu menyelipkan kata-kata disana. Kali ini ia juga menuliskan satu surat untuk Edel.

******
‘Pokoknya harus cantik.’ Edel mengenakan kemeja hitam pemberian almarhum Ibunya, menyelimuti bibir pucatnya dengan lipstick. Memoles wajahnya agar tidak kelihatan seperti orang sakit. Ia tampak cantik.
Tanpa pesan terakhir dari Seventeen sedang memutar dilaptopnya. Ia diam seketika. Tak tahu ada apa.
Hidup terlalu singkat untuk ceritaTentang kau dan akuKau pergi tanpa pesan terakhirDariku yang menyertaimuKau selalu ku kenang
'tok, tok, tok.’ ada yang mengetuk pintu rumah Edel.

‘pasti Elang.’ Ia berlari menuju pintu rumah dengan senyum yang sumringah.
Benar itu Elang. Ia tampan mengenakan baju putih, tapi ia tampak bercahaya.
Elang berdiri didepannya, memberikan bunga dan amplop hitam. Dengan senyuman yang selalu ada di sudut bibirnya. Tapi, ia tidak berkata apapun.
Lalu ia pergi, meninggalkan Edel yang masih melamun di depan pintu coklat rumahnya.

Saat kau langkahkan kakimu tuk tinggalkankuDan kau pergi jauh untuk selamanyaHingga bayangmu pun tak mampu ku lihat lagiKini kau tlah pergi jauh untuk selamanya

‘Elang ?’ Edel tersadar dalam lamunanya. Ia masih terpaku didepan pintu.
Bait kedua lagu berputar. Terdengar sampai depan pintu. Edel menangis tanpa aba-aba. Air mata mengucur saat bayang Elang tak mampu dilihatnya.
Perasaan ini sama ketika Ibunya meninggalkannya.

Ia membuka amplop hitam pemberian Elang tadi, berisi 1 surat, 2 lembar foto edelweis dan 2 lembar senja di puncak gunung semeru.

Del, jangan marah ya aku pergi gak pamit hehe.aku mau cerita sedikit del, tentang perasaan ku mendaki di Semeru. Kau harus tau rasanya del, seru sekali, menantang saat mau tiba dipuncaknya. Kau pernah menonton film 5cm itu, kan ? iya del aku sudah beberapa kali tertimpa batu besar saat merayap untuk mendaki. Kepalaku bocor del, wajah ku penuh luka. Pasti kau kagum dengan ku, kan ? sudahlah del ngaku saja.Oiya, Del tapi ada yang aneh dari diriku del, perasaan ku tidak seperti biasanya del. Biasanya kalau aku mendaki dan sampai di puncaknya aku selalu senang apalagi ketika aku asik memotret banyak edelweis untuk mu. Tapi kali ini perasaan ku lain, del. Aku khawatir dengan diriku sendiri. Seperti takut untuk tak bisa jumpa lagi dengan mu. kalau aku berkumpul dan menyusul Ibu dan Ayah mu kau tak cemburu, kan ? jangan cemberut begitu del. Senyumlah!kau harus seperti bunga yang sama dengan nama mu; mekar dan abadi di tempat yang kalau ingin disinggahi harus dengan hati. Kau harus selalu tumbuh dengan keindahan mu, del.barangkali ini foto edelweis terakhir untuk mu del. Usap air mata mu, del. Bunga Edelweis tak pernah menangis saat pendaki meninggalkannya.Oiya del, maaf aku belum sempat mengajakmu mendaki bersama , kau simpan dulu kemauan mu, kalau kau sudah benar-benar sembuh kau pasti bisa mendaki, bahkan puncak gunung yang tinggi sekalipun. Kau kan perempuan tangguh. Siapa dulu kekasihnya aku hehe. Selamat Hari Jadi, del. 

Air mata Edel makin deras mengucur, tangannya gemetar membaca surat terakhir pemberian Elang. Ia tak sanggup menyeka air matanya. Biasanya kalau ia menangis seperti ini Elang lah yang mengusap air matanya dengan penuh rasa. Tapi, kini sosok itu pergi.

‘tok, tok, tok.’ Ada suara ketukan lagi dipintu rumah Edel.
Edel menghampiri pintu rumahnya dengan air mata yang masih mengalir dipipi.
‘Del, Elang udah gak ada. Dia terguling saat hendak turun gunung. Kepalanya terbentur batu besar del, jasadnya sedang dijalan pulang.’ Teman Elang menjelaskan dengan tatapan kasihan.
Tubuhnya berdiri kaku, seperti tak bernyawa tapi bisa merasa, seperti tak percaya dengan ini semua,
Ada yang hilang dalam hari-harikuSaat tak bersamamuKau selalu ku kenang dan selalu ku kenang

Lirik Seventeen mengingatkannya lagi. Ada yang hilang dalam harinya dan hatinya.
Tangisan Edel semakin deras mengalir, ketika membaca satu kalimat yang ditulis difoto edelweis terakhir pemberian Elang.

‘kau bunga abadi yang selalu dihati: aku-cinta-kau.’
‘kau yang sudah pergi dan tak mungkin kembali: aku-juga-mencintai-kau. Dengan sangat.’
******



Sabtu, 26 Juli 2014

9 Juli 2014

Ini kali pertama aku memberikan hak suara kepada calon presiden 2014. Pemilihan calon/wakil presiden tahun ini sangat menegangkan. Tim sukses dari masing-masing cawapres bersaing dengan caranya masing-masing. Sementara aku dan anak dewasa yang baru punya Kartu Tanda Penduduk merasa kaget dengan yang namanya demokrasi. Ternyata menentukan pilihan untuk negara sama sulitnya dengan menentukan pilihan untuk hati, ekhem.

******
Aku tiba di TPS bersama Ibu dan Ayah ku. Banyak orang yang ingin ikut berpartisipasi menentukan suara untuk cawapres. Ternyata banyak juga yang peduli dengan negara. Alhamdulillah.
Di TPS saya, Ibu dan Ayah mengikuti aturan yang disediakan, dengan pilihan masing-masing dipikiran, visi-misi yang sesuai dengan jalan kehidupan. Tapi di TPS saya mendengar seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 14tahun menggerutu sambil memungut beberapa gelas air mineral yang berserakan ditanah.
“untuk apa sih pencoblosan, gak penting.” Katanya menggerutu sedikit kesal.
Mendengar dia menggerutu seperti itu, saya ingin sekali memprotes dan menanyakan mengapa pemilihan presiden sangat tidak disegani olehnya.
Dan akhirnya saya mendekatinya.
‘dek, kamu lagi apa ?’ tanya ku basa-basi.
‘saya lagi memungut gelas akua, kak. Memungut sumber rezeki untuk saya dan keluarga.’ Katanya sedikit menundukan kepala. Dia sedikit bersedih.
‘oh begitu, Ibu dan Ayah mu tidak mencoblos ?’
‘tidak, kak. Tenaga mereka terlalu berharga untuk sekedar mencoblos cawapres.’ Dia menegakan kepalanya.
‘koq begitu ? dek, ayah saya pernah bilang, satu suara itu sangat berharga untuk negara.’ Saya mencoba menjelaskan apa yang saya dapati dari ayah.
‘ayah dan keluarga kakak sehat, ibu dan ayah saya sakit kak. Bahkan ayah saya meninggal karna kelaparan, karna janji para petinggi demokrasi yang katanya ingin membiayai pengobatan ayah saya sampai sembuh tapi nyatanya beras murah saja tak pernah kami dapati di rumah.’ Katanya dengan sedikit kesal tapi bersedih.
‘dek, nyawa itu ditangan Allah bukan ditangan para pejabat.’ Kataku membenarkan perkataannya.
‘memang kak, tapi mereka perantara dari setiap pemberian Allah kak, mereka pejabat pastilah pintar ini-itu termasuk pintar mengurusi kami, rakyat yang hanya berharap kenyang setiap malam kak.’ Dia, bersedih lagi.
‘lalu kalau kamu dan keluarga mu kelaparan...’ saya berhenti dikata terakhir.
‘kalau ada rezeki ya makan nasi baru beli kalau tidak ada terpaksa makan pemberian orang yang sudah 2hari yang lalu, kita makan nasi basi, kak.’ Dia masih bersedih.
aku hanya terharu mendengar ucapan terakhirnya.

******

‘kamu sekolah ?’ aku melanjutkan pertanyaan ku.
‘dulu pernah kak Cuma sampai semester 1 kelas 1 SD, lalu seterusnya saya Cuma belajar dirumah singgah, ya karna belajar dirumah singgah lah saya sedikit punya pengetahuan.’ Katanya dengan sedikit senyuman.
‘kakak ikut mencoblos ?’ dia balik bertanya.
‘iya dek, ini kali pertama kakak menentukan pilihan untuk negara hehe.’ Kata ku sedikit membanggakan diri.
‘oh begitu, romannya kakak senang sekali bisa ikut mencoblos ?’ dia sedikit menyindir.
‘tentu, dek.’ Aku menjawab pasti.
‘kenapa kak ? oh iya kelihatannya kakak orang berada, orang berpendidikan, pasti kakak belum pernah merasakan pahitnya percaya dengan janji-janji mereka.’
‘mereka siapa ?’ aku tak mengerti dengan yang dimaksud ‘mereka’.
‘mereka itu kak beberapa orang yang mengobral janji dengan rakyat, yang menjamin hidup saya dan teman-teman rakyat kecil lainnya untuk hidup enak, sekolah tanpa mimikirkan biaya dan mereka juga janji akan memperhatikan kita, rakyat kecil yang hidup dipinggiran orang-orang bermobil.’ Katanya dengan senyuman sinis.
‘maksud mu pejabat dan presiden ?’ Aku masih sedikit bingung.
‘ah, mereka kurang pantas dipanggil pemimpin negara. Yang namanya pemimpin pasti menjamin rakyatnya hidup enak kak, tidur nyenyak tiap malam, punya masa depan yang cerah bukan malah membuat kita rakyat kecil khawatir tiap malam karna pesuruhnya.’
‘tiap malam kita selalu khawatir untuk tidur kak, kita takut salah satu anggota keluarga kita mati kelaparan tengah malam, tidur kita selalu tidak nyenyak kak tiap kali mendengar sirine kita selalu bergegas untuk mengumpat dari kejaran satpol pp.’ Dia melanjutkan kalimatnya sembari mengusap matanya. Ya, dia menangis menceritakan hidupnya.

******
Kepada bapak presiden yang terpilih nanti; dengarlah cerita rakyat kecil, pak. Teriakan kelaparan mereka, keluhan takut disetiap malam karna suara sirine, tangisan iri melihat teman seusianya duduk dibangku sekolah. Impian mereka sederhana, pak. Mereka hanya ingin punya rumah, punya ijazah, punya perut kenyang tiap malam dan yang terakhir mereka ingin punya pemimpin negara yang bisa menepati itu semua.
Maaf dan terimakasih, pak.