Kamis, 25 Oktober 2018

Untuk embun yang sejuk

Hallo, embun. Ibu bilang itulah arti nama adik kecilku. Ibu memberinya nama Nada Shofiyah, disana, dinama itu, ibu menginginkan anak perempuannya tumbuh sebagaimana layaknya embun yang memberi kesejukkan. Memberi sejuk untuk semua orang, tentu saja. Semoga harapan-harapan ibu dan ayah tentang namamu dapat kau wujudkan ditengah-tengah hidupmu.

Nada, semoga kesehatan selalu melindungi tubuh mungilmu. 6 tahun sudah perjalananmu menjadi santriwati yang jauh dari penglihatan kami, segala doa selalu kami sebut untuk keberadaanmu, semoga doa-doa yang kami terbangkan untukmu terwujud seperti harapan-harapan kami disana.

Kakak menulis ini dalam keadaan lelah sehabis sehari penuh menghadapi mata kuliah yang penuh dengan angka-angka. De, seperti halnya orangtua menghidupi kita, seberapapun lelah menghampiri hidupnya, nafkah harus tetap tersedia untuk keluarga. Jadi, kalau lelahmu memuncak, teruslah bertahan, sebab disana terlihat wajah ibu dan ayah menunggu keberhasilan kita. Kalau Nada mengira kakak selalu bisa hidup prihatin dari pada Nada, kau kurang tepat. Kakak hanya selalu mengingat banyak hal yang terjadi diluar kemauan kita yang harus tetap kita syukuri keberadaannya. Hidup kita sederhana, tugas kau hanya perlu mensyukuri apa yang telah diberikan Allah melalui jerih payah ayah dan ibu dalam menghidupi kita. Disetiap perjalanan yang kita lewatkan, disetiap pendidikan yang kita tempuh, disetiap kesulitan yang menemukan celah untuk menjadi mudah, percayalah, ibu dan ayah selalu ada dibelakangnya. Dibelakang kita, menguatkan pundak-pundak yang mulai ingin menyerah, memeluk lelah-lelah yang entah sudah berapa keluhan kita lontarkan dengan paling pasrah, medoktrin telinga kita agar tumbuh sesuai dengan nasihat baiknya, dan banyak hal yang ibu dan ayah turut bantu selama usia kita bertambah di dunia.

Bersyukurlah tanpa menuntut apapun yang tersedia didunia tetapi kita tidak bisa memilikinya.
Bersyukurlah karena terlahir dari keuarga sederhana yang mampu membahagiakanmu dengan cara-cara yang istimewa.

Nada, selamat bertambah usia. Tetaplah rendah hati walau usiamu semakin meninggi. Jadilah manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Sebab, sayang, hiduplah dengan kejadian-kejadian yang berguna, untuk dirimu, untuk orang lain disekitarmu.

Kakak berimu hadiah, sangat sederhana, hanya berupa buku catatan harian dan bolpoin teman sejalan. Nada tahu mengapa hadiahnya demikian? Buku catatan dapat kau gunakan untuk menulis setiap perjalanan panjangmu. Jadikan ia teman cerita kala telingaku jauh dari keberadaanmu. Nanti setelah kau lulus sekolah, kita akan semakin jarang berjumpa. Kakak akan bekerja lalu menikah nantinya, sedangkan kau akan sibuk kuliah dan menjadi mahasiswa. Sebab itu kakak hadiahi kau buku, agar ketika kau menjumpai banyak kejadian kau dapat menjadikan ia teman ceritamu. Menulislah apa yang membuatmu resah, tulisan itu, asal kau tahu, ia dapat menjadi pelampiasan untuk setiap keadaan. Nanti ketika lembar terakhir sudah penuh terisi, berikan buku itu kepadaku. Sebagai kakak yang tidak menyaksikan fase-fase remajamu, kakak ingin mengetahui perjalananmu menuju tingkat yang lebih dewasa. Kakak ingin melihat seorang Nada dari cerita-cerita kesehariannya. Oh ya, juga ada bolpoin disana, tentu saja warnanya merah muda. Ia masih menjadi warna kesukaanmu, kan? Bolpoin itu dapat kau gunakan untuk apapun. Satu yang pasti; jadikan setiap goresan tintanya menulis hal-hal yang berguna.

Maaf tidak bisa hadir di ulang tahunmu. Semester tujuh membuatku sulit mengatur waktu. Tugasku seperti ada seribu dan harus dikumpulkan setiap penghujung minggu. Kakak lelah, tapi tidak mengurangi semangat yang kakak punya. Sekali lagi, selamat mengulang tahun, Nada. Semoga usia menjadikan kau manusia yang berguna-untuk segalanya.

Salam rindu, untukmu, selalu.

Jumat, 03 Agustus 2018

Terimakasih untuk jarak dan waktu yang telah mengajarkan cinta dan rindu

Adakalanya jarak dan waktu menjadi dua hal yang menyesakkan dan melelahkan. Begitu juga yang terkadang kami rasakan, ketika dua orang yang saling mencintai harus menerima takdir bahwa jarak pandang mata kami terentang ratusan kilometer jauhnya.

Lima bulan kami harus meredam rindu, berusaha melipat jarak dengan surat-surat juga puisi-puisi yang setiap katanya dipetik dari mimpi dan imajinasi.

Kemudian kami pun menyadari sesuatu, bahwa ternyata memang selalu ada rindu yang harus menunggu.

Tak ada yang bisa kami lakukan selain saling menguatkan, meski seringkali juga ada tangis keputusasaan. Kami memang harus bersabar pada waktu, juga jarak yang menebar rindu.

Kata orang, pasangan yang menjalani kasih jarak jauh memiliki cinta yang tangguh. Kami tak tahu apakah itu benar ataukah tidak, kami menganggapnya sebagai doa bahwa kami bisa tetap tegak berdiri ketika badai benar-benar menghampiri.

Ada ratusan mimpi yang kami bagi bersama, dan ribuan harapan yang akan kami perjuangkan. Tentang rumah penuh buku-buku, tentang puisi-puisi dan cerita yang tersebar ke seluruh dunia.

Tak sedikit orang yang ragu dengan mimpi jika kelak kami bisa bersama. Namun, kami selalu percaya bahwa Tuhan selalu berpihak pada manusia yang selalu tulus berdoa, serupa kami yang saling menyebut nama dalam doa.

Lima bulan mungkin waktu yang sebentar untuk menjalin kasih, bukan juga waktu yang lama untuk kami saling memahami dan saling mengerti, karena terkadang kami pun masih diselimuti egois diri.
Seringkali kami ingin melangkah pergi dan saling meninggalkan, tapi kami selalu sadar bahwa sebuah kepergian hanya akan menciptakan luka yang dalam.

Kami sudah melewati banyak jalan, menelusuri lorong-lorong ruang waktu demi mencari tahu apa makna cinta, ketulusan, dan kesetiaan. Bukan hanya taman dengan bunga harum bermekaran yang pernah kami lalui, tapi kami juga seringkali melewati hutan sepi yang menciptakan ketakutan sehingga membuatku ingin terus berlari. Sudah tak berbilang berapa banyak luka yang sudah tersayat, juga berapa banyak air mata yang mengalir.

Kami selalu berusaha berteman dengan hujan, juga berusaha untuk mengakrabi badai hingga terkadang kami merasa lelah jika harus berjalan lebih jauh lagi.

Namun, ada satu hal yang selalu kami rapalkan seraya saling menggenggam harapan, ‘Kita akan lalui semua bersama’.
Banyak orang yang seringkali berkata sumbang tentang cinta kami, bahwa jarak akan meruntuhkan segalanya.
Namun, kami berhasil melewati semua dan membuktikan bahwa kekuatan cinta dapat membuat doa kami dikabulkan Yang Kuasa.

"Kami bukanlah pasangan yang sempurna, karena kami adalah sepasang puisi yang masih belajar untuk saling memahami, jika salah satu dari kami pergi, kami tinggal huruf yang kehilangan arti."

Terima kasih kepada jarak dan kepada waktu yang mengajarkan kami tentang cinta dan rindu, dan terima kasih kepada Dia yang memiliki kuasa melapangkan jalan yang berliku.

*****

Tulisan ini dibuat oleh lelaki saya. Terlalu banyak kejutan yang saya dapati selama menemani waktu dan hari-harinya. Terlalu banyak hal-hal diluar dugaan yang selalu membuat saya tertawa kegirangan. Selamat melanjutkan perjalanan, Ali. Semoga jarak dan waktu selalu bisa diajak kompromi. Semoga kami selalu bisa saling memaklumi. Semoga cinta senantiasa hadir ditengah hari-hari kita.

Amin.

Sabtu, 21 Juli 2018

Malam ini, kami menikah.

Jam 11 malam lebih 15 menit. Seperti malam-malam kemarin, ia selalu ingin melihat wajahku sebelum tidur.

"Video call yuk, sebentar aja, aku mau lihat kamu hari ini." Ucap ia ketika kabarnya baru saja sampai rumah setelah lelah seharian berkerja.

"Yuk." Aku selalu ingin menuruti permintaannya yang satu ini. Sesekali aku yang mengajaknya video call. Sebentar saja, untuk sekadar melihat ia baik-baik saja pun untuk melelapkan rinduku di penghujung hari-untuknya.

"Sebentar ya, aku pakai gincu dulu." Ucapku sembari beranjak dari kursi kemudian mencari tas kecil berisi alat make up seadanya.

"Emangnya harus banget gincuan? Kayak gitu aja, aku suka kamu yang alami, tanpa sentuhan apapun." Ia bilang, sederhana adalah alasan ia jatuh cinta kepadaku.

"Nggak mau, aku mau terlihat cantik didepan kamu." Jawabku.

"Udah malam, masa mau tidur gincuan, sih?" Tanyanya sembari mengerutkan dahi.

"Ngga apa-apa, nanti kalo ketemu kamu di mimpi, aku udah cantik, jadi nggak malu." Jawabku lagi, sembari tertawa kecil.

Kau tahu mengapa aku ingin terlihat cantik didepan mu? Ingin ku satu, ketika kau melihatku, kau selalu ingin jatuh lebih dalam untuk cinta yang hanya tertuju kepada seorang aku.

*****

"Udah gincuannya?"

"Udah hehe"

"Tadi seharian ngapain aja?" Seperti biasa, ia selalu menanyakan keseharianku.

"Pagi kuliah, sampe rumah jam 5, ini baru selesai ngerjain tugas." Akupun selalu menjelaskan kegiatanku yang itu-itu melulu.

"Kalo kamu ngapain aja?" Seperti ia, aku juga ingin tahu kesehariannya.

Menurutku, usia kita berdua bukan lagi usia yang ketika bertukar kabar hanya menanyakan sudah makan belum secara berulang-ulang. Tanpa ditanyakan, kita selalu tahu kapan kebiasaan-kebiasaan itu akan dijalankan. Tanpa diingatkan, ku rasa makan adalah satu hal yang jarang sekali orang lupa. Aku lebih suka ketika ditanya seharian melakukan apa saja, lalu bertukar cerita tentang apapun, sambil memandang wajah lelahnya, tentu saja.

"Aku tadi di tempat kerja ngobrol sama teman yang udah nikah." Katanya ketika hendak bercerita.

"Iya? Terus?" Tanyaku menunggu kelanjutan ceritanya.

"Teman aku di kantor semuanya udah nikah, aku aja yang belum. Ada yang punya istri 4 malah."

"4? Serius kamu? Berarti dalam sebulan dia pindah rumah 4 kali ya?" Aku dengan nada sedikit kaget.

"Iya haha." Jawabnya sembari tertawa.

Akupun mengikuti irama tertawanya.

"Aku sih nggak mau tuh di madu, sampai 4 kali coba. Kok bisa ya istrinya sesabar itu? Aku lihat kamu dichat teman cewek aja langsung panas haha." Aku memang perempuan pencemburu, pada perempuan manapun yang didekatnya selain ibu, nenek, dan saudara perempuannya.

"Cinta, namanya." Jawabnya singkat sebelum menjelaskan lagi.

"Tapi, cinta nggak pernah rela dibagi dua." Ucapku mengutarakan pendapat.

"Sayang, cinta memang sewajarnya cuma satu. Tapi kalau sudah cinta apapun dilakukan untuk melihat dia bahagia."

"Walau hatinya tersiksa?" Tanyaku tetap dengan pendapatku.

"Mungkin begitu."

"Nggak bisa gitu, kalau tersika kenapa tetap dilakukan? Terus kamu ada niat buat punya 4?" Tanyaku lagi, kali ini dengan nada sedikit beda.

"Aku ngurus kamu yang satu aja udah repot." Jawabnya sembari meledekku.

"Ih nyebelin."

"Aku lihat teman-teman nikah, jadi pengen cepat nikah, tapi butuh biaya banyak, belum punya rumah juga. Kalau 2 tahun lagi, bagaimana?" Untuk ketiga kalinya ia menanyakan perihal demikian.

"Udah siap? Mentalnya? Materinya?"

"Siap. Kalau nunggu siap nggak akan pernah siap." Jawabnya singkat.

"Kamu nikah itu mengejar apanya?" Tanyaku ingin tahu maksudnya.

"Umur semakin lama semakin tua, aku butuh teman hidup, untuk banyak hal; ngurusin aku, ngatur uang aku, nemenin aku ngopi tiap pagi, kalau selesai kerja ada seseorang yang nunggu aku pulang. Aku pingin lengkap, pelengkapnya ada di kamu. Aku pingin satu, sama kamu."

"Nikah ngga gampang, ya. Butuh biaya banyak, belum lagi beli rumah buat kita berdua, sewa gedung, catering, atribut nikah." Ia mengutarakan keluhannya.

"Ada yang lebih sulit dari yang kamu sebutin tadi."

"Apa?" Tanyanya penasaran.

"Kepercayaan ibu dan ayah kasih aku untuk kamu jaga."

"Lalu, apalagi?"

"Yang terakhir tapi bukan yang paling akhir; setia."

"Hmmm." Raut wajahnya terlihat lebih serius dari 5 menit yang lalu.

"Setia itu pekerjaan yang terdengar gampang, tapi sulit dilakukan."

"Kenapa begitu?" Ia tetap bertanya, dan aku tetap menjelaskan.

"Begini, kalau sudah nikah, setiap hari setelah bangun tidur selalu lihat wajah aku, sebelum tidur pun begitu. Satu rumah dengan perempuan yang ngambeknya merepotkan mu itu nggak mudah. Disana, dirumah kita nanti, tinggal dua manusia yang isi pikirannya berbeda. Beradu pendapat akan selalu ada. Nanti, ada masanya kamu lelah setelah pulang kerja, ada aku yang egonya ingin dimengerti. Atau kita balik situasinya, nanti ada masanya ketika aku lelah urus rumah, ada kamu yang rewel meminta egomu dituruti. Belum lagi pertemuan kita dengan orang-orang baru yang mungkin lebih menyenangkan ketimbang aku, yang menawarkan kenyamanan berupa godaan. Selalu ada masa-masa menyulitkan ketika membangun sebuah rumah tangga." Jawabku menjelaskan panjang-lebar.

"Memang. Kekuatannya ada di cinta." Balasnya dengan singkat.

Ia memang laki-laki yang irit bicara. Kata-katanya sedikit tetapi mengandung makna yang banyak. Ia selalu membuatku penasaran apa yang akan diucapkannya kemudian.

"Sayang, alasan aku menyatakan perasaanku kepadamu adalah cinta yang berawal dari kenyamanan. Aku tak peduli pertemuanku dengan orang lain selain kamu. Orang lain mungkin saja menawarkan kenyamanan yang lebih, pun ada masa dimana kita sama-sama bosan dalam hal apapun yang kita lakukan berdua. Tapi, aku selalu percaya yang berjuang lebih awal. Aku selalu ingin kamu dengan apa-apa yang telah kita perjuangkan. Sampai ditahap ini, aku tak pernah salah kalau kau perempuan yang sabarnya ikut ambil alih dalam perubahan-perubahanku. Aku memilihmu karena ada satu ruang kosong didiriku yang isinya hanya terletak di kamu. Aku siap menjadi suamimu karena telah ku lihat upaya-upayamu dalam mencintaiku." Ia menjelaskan kelanjutan ucapannya.

Aku menatapnya dengan bangga. Ada perasaan bahagia ketika mendengar alasan ia ingin menjadikanku yang terakhir di hidupnya.

"Kapan kamu siap?" Tanyanya membangunkan lamunanku.

"Kalau aku udah bisa mengendalikan egoku sendiri, kalau aku udah bisa masak, kalau aku udah sepenuhnya bisa memahami kamu."

"Akan ku tunggu." Katanya sembari tersenyum.

Perbincangan yang menyenangkan. Perihal kesiapan menghadapi masa depan.

"Lalu, kapan kita menikah?" Pertanyaan terakhirnya sebelum menutup telepon diujung sana.

"Malam ini, di mimpi kita masing-masing."

Kemudian perbincangan kita berakhir pada jam 1 malam.

Jumat, 13 Juli 2018

Perkenalkan, ia tuanku.

Tepat 5 bulan lalu aku memutuskan untuk sembuh dari patah hati yang mengurungku seorang diri, memberanikan diri melangkah dari trauma yang membuatku malas membuka hati. Aku telah banyak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan perihal cinta dan mencintai, terlalu takut untuk memulainya kembali, dan terlalu banyak luka hati yang bosan ku sembuhkan sendiri.

Namun, pada saatnya, tepat ditanggal 13 hari ini aku menemukan ia dengan sosok yang sulit diterka. Pertemuan kita sebenarnya adalah kenyataan yang tidak terduga. Sosial media mempertemukan kita. Lucu sekali. Dimana dua manusia yang belum pernah bertatapan mata tapi sudah jatuh cinta. Dunia kadang mempertemukan seseorang dengan cara yang tidak masuk dipikiran. Tak apa. Hidup memang apa-apa perihal kejutan.

Awal ku mengenalnya, ia adalah seseorang yang tertawanya sulit sekali ku dengar, sempat ku berpikir aku dan ia terlalu banyak berbeda selera. Aku adalah seorang perempuan yang mudah sekali menertawakan suatu hal, sedang ia adalah seorang laki-laki yang lebih senang mendengarkan segala macam kerewelanku dalam menceritakan sesuatu.

Ia adalah laki-laki yang kutemui ketika hendak menyembuhkan luka dihatinya sendiri, laki-laki yang menyapaku lalu berusaha untuk tetap maju sampai waktu yang menjadikan aku dan ia bersatu, laki-laki yang memberi musim semi pada hati puan yang telah lama mengalami musim kemarau berkepanjangan, laki-laki yang jika didekatnya aku merasa aman, laki-laki yang menyebalkan dengan tingkahnya yang selalu ku rindukan, laki-laki yang cemburunya menggemaskan, laki-laki yang jika menginginkan sesuatu selalu berusaha untuk dituju dan banyak lagi alasan mengapa aku menjadikan ia laki-laki kedua dihidupku setelah ayah.

Untuk kau, laki-laki yang ku cintai; terimakasih telah menjadikanku pelabuhan terakhir atas lika-liku pelayaran yang banyak kau lewatkan. Aku mencintaimu sampai nanti, sampai tubuh berubah menjadi debu.

Rabu, 23 Mei 2018

Sore itu, ia manis sekali.

"udah dimana? Jangan lama-lama." Pesan singkat ke sekian yang ku kirim kepada ia ketika sedang menunggunya sembari mendengarkan dosen mengumumkan kelanjutan KKN di semester genap ini.

"Udah di depan." Balasan pesan singkat untukku.

"Oke." Balasku lagi sembari menuju gerbang kampus tempat biasa ia menunggu.

•••••

"Kamu lama." Ucapnya memprotes jalanku yang sedikit membuatnya menunggu.

"Udah yuk jalan, buruan." Tak pikir panjang, aku langsung menaiki jok belakang motor matic miliknya.

Motor melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan tangannya memegang tanganku. Erat sekali, seperti tidak ingin dilepaskan, seperti tidak ingin kehilangan.

Lalu motor yang kami kendarai sampai di mall daerah Depok. Mencari parkir kemudian menuju bioskop untuk kencan ke sekian.

"Aku mau nonton Deadpool 2." Ucapnya sembari melihat jadwal bioskop.

"Deadpool 2 mulainya sore, nanti aku pulang sampai rumah jam berapa? Nonton yang jam siang aja ya. Itu film horor katanya seru, aku baca reviewnya kemarin." Balasku.

Aku memang kekasihnya yang paling tidak bisa diajak kencan lama-lama. Bukan karena tak ingin. Siapa yang tak ingin berlama-lama dengan seseorang yang dicinta? Ku rasa tak ada yang tak mau untuk hal demikian. Aku pun ingin berlama-lama dengannya, hanya saja perintah ayah yang menyuruhku pulang dibawah jam 9 malam. Untung saja ia sudah mengerti dan mau memahami.

Kami memesan dua buah tiket untuk film horor yang aku lupa judulnya. Aku memang bukan pengingat yang baik. Sebab itu aku membutuhkan ia untuk mengingatkanku tentang apapun itu.

Sembari menunggu jam tayang film, aku dan ia menuju restoran siap saji yang ku idolakan kulit ayamnya.

"Kulit ayamnya boleh buat aku nggak?" Tanyaku mengincar sesuatu.

"Boleh. Nih." Jawabnya sembari memindahkan kulit ayam ke wadah tempat makanku.

Salah satu alasan mengapa aku mencintainya, ia selalu bersedia memberi apapun yang ku minta, dari kulit ayam yang sederhana sampai hal-hal lain yang ia turuti untukku.

Sembari menikmati makanan, kami berbincang apa saja. Dari rambutnya yang mulai gondrong karena malas cukur, sampai anak jaman sekarang yang tingkahnya mudah ditebak.

•••••

Makanan sudah habis. Kami menuju bioskop. Tak butuh waktu untuk menunggu, pintu teater 3 telah dibuka, kami bergegas masuk lalu mencari urutan kursi yang tertera di tiket, kemudian duduk dan menyenderkan diri.

Film segera dimulai. Lampu mulai dimatikan. Penonton hening, hanya ada suara dari layar besar dihadapan kursi-kursi yang telah berpenghuni.

"Dingin ya bioskopnya, aku pakai jaket dulu." Ia mengenakan jaketnya, lalu menyilangkan kedua tangannnya.

"Mulai dari mana ya." Ucapnya dengan bingung.

Aku hanya memperhatikan wajahnya yang tak terlalu kelihatan.

"Setelah berjalan beberapa bulan denganku, menurut kamu, aku gimana?" Tanyanya membuka percakapan.

"Kamu baik, royal, rela nyamperin aku jauh-jauh, aku suka ngerasa spesial sama perjuangan kamu." Jawabku menjelaskan.

"Sudah yakin belum masa depanmu berakhir di aku?" Tanyanya lagi.

"Belum, habisnya kamu nggak pernah ngeyakinin." Jawabku singkat.

"Kalau aku ngeyakininnya pakai ini?"  Tangannya dengan sigap mengeluarkan kotak merah dari kantong jaketnya, lalu melingkarkan cincin di jariku.

Aku terdiam menyaksikan tingkahnya yang mengejutkan. Cincin itu telah terpasang di jemariku. Manis sekali, bukan hadiahnya, tetapi kenyataan bahwa ia mampu mengistimewakanku dengan jerih payahnya sendiri.

"Makasih banyak." Aku memeluknya erat, sembari mengucap terimakasih dan menahan air mata yang sudah mau turun di pipi.

Ia mengecup keningku, kemudian mencium punggung tanganku. Tulus sekali. Aku merasakan cintanya sampai kepadaku. Sore itu, bahagia sulit diucapkan dengan kata-kata.

"Jangan ngambek terus, jangan kayak anak kecil." Ucapnya sembari mengelus kepalaku.

"Aku nggak ngambek, emang pernah aku ngambek?" Ucapku tak mau kalah.

"Nggak ngambek tapi sering betein aku." Jawabnya.

"Lagian kamu nyebelin."

Kemudian aku merebahkan kepala dibahu hangatnya. Dibahu yang menyimpan banyak tanggung jawab atas hidupnya. Tapi, sayang, seberat apapun beban, doa selalu punya cela untuk meringankannya.

•••••

Terimakasih banyak, tuan. Tak perlu diucapkan. Semoga rasaku sampai-kepadamu, selalu.

Jumat, 01 Desember 2017

Kita (pernah memulai, lalu selesai)

Tuan, ijinkanku merayakan patah hati dengan tulisan yang diketik oleh kedua ibu jari dilayar ponsel pribadi.

Ini perihal kita, yang pernah memulai-lalu-selesai.

Kita adalah ego paling keras yang saling berlawanan menyembunyikan kerinduan, lalu mengatasnamakan kebencian, padahal kita, aku dan kau hanya membutuhkan satu hal; mengikhlaskan.

Kita adalah amarah yang belum sempat diluapkan. Menjadi satu, menjelma keasingan yang kita simpan dalam tiap-tiap makna kesendirian.

Kita adalah sepi yang berusaha meramaikan isi hati. Menghibur diri dengan ketawa-ketiwi berharap semesta mengilhami, bahwa kita butuh obat pengusir sedih.

Kita adalah takdir yang berkata lain. Berusaha menggapai opini-opini tentang hidup bersuami istri, tapi nyatanya berakhir dengan hubungan yang lamanya bisa dihitung jari.

Kita adalah jarak yang memisahkan. Meminta kepada Tuhan agar kilometer dapat mendamaikan suasana ketika kekasih jauh dari pandangan mata, kemudian Tuhan memutuskan untuk menjauhkan kita selamanya.

Kita adalah angkuh yang tersimpul dalam masing-masing tubuh. Menunggu dihubungi terlebih dahulu, hanya karna kita ingin tahu siapa yang benar-benar salah dengan mengakui penyesalan dan beribu kecewa.

Kita adalah apa yang pernah disemogakan dalam setiap doa. Meminta kepada yang Maha agar selalu bisa diberikan kesempatan untuk bersama, namun sayang sekali rencana-Nya menyuruh kita berjalan sendiri-sendiri.

Kita adalah dua manusia yang sempat jatuh cinta. Dulu, sebelum kau memutuskan untuk pergi, lalu aku yang kini betah merawat kesepianku sendiri.

Kita adalah setia yang tertunda. Berjanji untuk sehidup semati, tapi mengingkari dengan maksud menyelamatkan hati.

Kita adalah perkenalan yang terlalu cepat, lalu berakhir dengan cara yang tidak tepat.

Kita adalah awal yang selesai ditengah jalan. Akhir yang dirancang akan bahagia, lalu tamat begitu saja dengan alasan sudah tidak cinta.

Naif.

Tak apa. Siapa yang ingin hatinya terluka lebih lama ? Tak ada. Tak akan pernah ada yang ingin hal demikian. Maka lepaskanlah, sebelum luka semakin menganga.

Sabtu, 04 November 2017

Apa yang kau rindukan dari malam minggu ?

"Aksaraya" panggilnya dengan tenang.

"Iya ?" jawabku pelan. Kala itu, bibirku sangat dekat dengan telinganya.

"Apa yang kau inginkan dari malam minggu ?" dia mulai membuka pertanyaan. Kau harus tahu, tuanku ini adalah lelaki yang menyimpan banyak pertanyaan tak terduga. Tapi tenang saja, jawabannya selalu mudah, hanya dibeberapa penghujung ketika kau mendengar pertanyaannya kau akan dibuat bingung atau bahkan senyum-senyum.

"Inginku, kamu." Jawabku singkat.

"Aku tidak memintamu merayuku, aku memintamu menjawab pertanyaanku." Balasnya seraya menggoda.

"Kau boleh menganggapku merayu, tapi kau juga harus tahu, bahwa hal itu yang benar-benar ingin aku katakan." Ucapku membela diri, tapi aku benar-benar hanya ingin kamu.

"Baiklah. Terimakasih rayuannya, nona si tukang ngambek sejagat raya haha." Dia meledekku dari spion kirinya, kemudian menatapku lama.

"Sama-sama, tuan haha. Kalau kau, apa yang kau inginkan dari malam minggu ?" Aku balik melempar pertanyaan.

"Inginku, selalu bisa melihat senyummu. Kapanpun dan dimanapun." Ucapnya sembari melemparkan senyum.

Saat itu, duniaku jungkir balik, serasa roda kehidupan selalu memutar kebahagiaan. Tak peduli pedih yang dialami, kata-katanya membuatku mabuk kepayang.

"Ah, tuan ini bisa saja." Ucapku dalam hati. Lalu kemudian aku semakin mengeratkan pelukan.

"Kalau malam minggu ini malam minggu terakhir untuk kita, apa yang kau rasa ?" Tanyanya, lagi.

Aku mengernyitkan dahi. Sudah kubilang, pasti ada pertanyaan yang akhirnya membingungkan. Seharusnya aku tak perlu kaget, aku telah mengenalnya lama, telah banyak pertanyaannya yang ku jawab, telah banyak juga jawaban ia yang ku tanggapi. Tapi, kali ini, mengapa udara malam serasa menyeramkan. Rasanya ada bau-bau debu bercampur asap kendaraan, ada tanda-tanda kehilangan yang harus diikhlaskan, ada diriku yang harus kuat menghadapi takdir Tuhan.

"Aku tak suka pertanyaanmu yang ini, bahkan aku tak punya jawabannya." Jawabku kesal mendengar pertanyaannya.

"Ibuku bilang, setiap pertanyaan selalu punya jawaban, sayang. Hanya saja tingkat kesulitan sebuah pertanyaan yang kadang jawabannya tidak ditemukan." Jelasnya.

Aku hanya terdiam, lalu melepaskan pelukan.

"Lalu, apakah pertanyaanku terlalu sulit untuk kau jawab ?" Dia membujukku.

"Sangat sulit, Satir. Kau harus tahu satu hal, bahwa ada beberapa pertanyaan yang jawabannya lebih baik dipendam, tak lain untuk menghindarkan pertanyaan lain yang lebih membingungkan atau bahkan menyedihkan. Aku tak suka sedih, kau pun tahu itu." Jawabku memprotes.

"Tapi, kau hanya perlu menjawabnya. Setelah itu aku tak akan bertanya lagi."

"Baiklah kalau kau memaksaku untuk menjawab. Sebenarnya ini adalah pertanyaan tersulit yang harus ku jawab. Semoga segala firasat burukku tak ada hubungannya dengan pertanyaanmu. Aku benci kau buat pikiranku mendadak khawatir."

"Kalau malam minggu ini malam terakhir untuk kita, aku akan meminta pada Tuhan untuk memperpanjang waktu atau sedikit membuat beku waktu pada hal-hal yang menyenangkan ketika bersamamu, seperti membekukan senyummu ketika mencuri tatapan mataku dikaca spion motormu. Tapi, ku rasa, Tuhan selalu baik dengan rencananya. Jadi Tuhan tak akan menjadikan malam minggu ini malam terakhir untuk kita." Setelah menjawab pertanyaannya, mataku tiba-tiba panas, lalu berair, airnya deras, meluncur ke pipi, lalu ke mulut, sesekali tak sengaja ku telan.

"Tapi, Tuhan menyuruhku pulang malam ini."
Tuanku penuh ketidakdugaan.

"Salah. Tuhan menyuruhmu selalu menemaniku." Aku kembali memeluknya. Erat sekali. Serasa tak ingin ia pergi barang sedetikpun dari hidupku.

"Raya, segala kehendak Tuhan terutama tentang kepulangan ke sisinya, tak bisa diganggu gugat. Semuanya sudah pasti akan terjadi." Dia menjelaskan dengan suara yang terdengar lemas.

"Aku tak mau dengar kata-katamu lagi."

"Hey, puanku tak boleh cemberut begitu. Nanti aku malu dengan orang-orang, masa bisanya bikin kamu cemberut sih. Aku kan maunya bikin kamu senang terus." Ucapnya menggodaku.

"Satir, aku tak suka berita kematian. Dulu, ketika ayahku pergi lebih dulu, aku mengurung diri dikamar berhari-hari. Seperti tidak menerima kenyataan, kenapa Tuhan secepat itu menyuruh malaikat maut menjemput ayahku. Ibuku, susah payah menahan tangis ketika hendak membujukku keluar kamar. Kantung mata ibu tebal, setebal kerinduannya pada ayah. Jenaka, adik laki-lakiku selalu menanyakan ayah ketika malam hari tiba. Aku benci kehilangan seseorang yang telah banyak memberikanku kenangan." Air mataku semakin deras, kali ini ditemani oleh sesegukan didada.

"Maaf kalau nanti aku termasuk seseorang itu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu melebihi keinginanku bersamamu sepanjang waktu malam minggu. Aku pasti akan rindu malam minggu bersamamu. Percayalah."

"Sekarang tak usah menangis, kalau kau benci kesedihan, aku juga benci air matamu." Lanjutnya membuatku sedikit tenang.

Aku terdiam. Hidungku perih menahan air mata yang hendak jatuh lagi. Aku mengubur pikiran buruk tentangnya. Ibuku bilang, sesuatu yang terjadi didunia, sebagian disebabkan oleh pikiranmu tentang kenyataan di depan, sebagiannya lagi kehendak Tuhan yang memang telah ditetapkan. Jadi, aku memilih berhenti memikirkan apapun, selain tetap memeluknya.

Sepanjang perjalanan kami saling diam, kadang aku meliriknya dari kaca, ku lihat matanya semakin sayu, seperti sebentar lagi tertutup. Sesekali aku memanggil namanya, tapi tak ada jawaban apa-apa. Barangkali suaraku kalah dengan suara klakson kendaraan, ku kencangkan panggilanku, masih tidak ada jawaban.

Lalu, pada detik kesekian, ku lihat matanya mengedip, ku lihat didepan kami ada bis pariwisata melaju kencang sekali.

"Satirrrrrr awasssss" Aku teriak, tegang sekali.

"Aaaaaaaaaaaaa" Satir pun teriak sekencang-kencangnya.

BRAKKKKK !

Mataku melihat Satir terpental jauh sekali. Ingin meraih tangannya, tapi akupun lemah diposisi tergeletak dijalan raya, dalam hitungan menit aku menutup mata, lalu tiba diruangan dengan jarum infus dilengan, juga banyak luka disekujur tubuh dengan banyak noda darah diatasnya.

"Sayang, apa yang kau rindukan dari malam minggu ?"

Aku mendengar suaranya setelah berusaha susah payah membuka mata. Setelah berhasil melihat seisi ruangan, aku mendapati tubuhnya mengenakan setelan putih, bersih sekali, kadang bersinar. Tuanku tampan pada saat itu.

Sedetik ketika aku mengedipkan mata, tubuhnya hilang. Lalu, ku sambut kesadaranku dengan tangisan.

Ku jawab pertanyaannya pelan-pelan.

"Aku rindu suara motor klasikmu didepan rumahku, keberanianmu meminja ijin kepada ibu untuk pulang tepat waktu, pegangan tanganmu ketika menyuruhku mengeratkan pelukan, gerak-gerikmu mencuri senyumku, dan aku rindu menjawab pertanyaan yang kadang menjengkelkan." Tubuhku kaku setelah menjawab pertanyaannya.

•••••••••

Tepat pada malam ini, Satir pergi meninggalkanku. Malam minggu yang kelabu, ku sebut itu ketika kehilangan sosoknya.

Satir, aku rindu malam minggu bersamamu.