Rabu, 26 Juli 2017

Surat Untuk Gi (Awal sebuah pertemuan, penerimaan, dan perjalanan)

Hai, Gi. Sedang apa ? Sudah mandi ? Gi, dikotamu air memang terasa lebih dingin, tapi wangi tubuhmu sejak bangun pagi harus dibasuh dengan sabun mandi. Kamu ini, disuruh mandi kok susah. Bagaimana kalau disuruh menghadap ayah dan ibu ku nanti ? Hehe.

Gi, aku ingin membahas hubungan yang disekat oleh jarak itu. Tentang kedekatan yang dipertemukan secara kebetulan. Tentang awal bagaimana kamu menyapaku lewat dunia maya berbentuk burung berwarna biru. Entah sejak kapan kamu mulai mengikuti aktivitas mayaku disana, aku tahu sudah dari lama kamu mengikutiku, tapi kamu tak pernah menyapaku lebih dalam Gi, jadi aku hanya membiarkanmu menjadi salah satu pengikutku di media sosial itu.

Lalu, kalau tidak salah, 6 juli 2017 kemarin, saat ponselku masih betah dengan kesepiannya, kau mulai menyapaku untuk meminta follback dari akun yang pengikutnya tak sebanyak hari-hari pemiliknya merasakan sepinya sendiri. Bagaimana tidak, semenjak peristiwa hatiku dipatahkan oleh ia yang membagi cintanya untuk orang lain, aku mulai mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri dalam hal menghadapi sepi, bahkan untuk bercinta lagi saja rasanya trauma. Aku terlalu muak berbicara apa-apa perihal hati. Aku menutup hatiku rapat sekali, sampai akhirnya aku nyaman berteman dengan kesendirian.

Kemudian, aku mulai menuruti permintaanmu di lini masa pagi itu. Aku ingat betul pertama kali kau menyapaku lewat pesan pribadi. Kau bilang kau kagum dengan tulisan-tulisan galauku di lini masa itu, lalu kau tambahkan kata-kata penyemangatmu bahwa jangan melulu menulis galau begitu. Gi, tulisanku itu fana, galauku sudah sembuh, kata-kata di dunia mayaku hanya mewakili perasaan dari teman-teman yang sering bercerita tentang pasangannya atau tentang putusnya hubungan karena beda keyakinan. Aku hanya ingin mendeskripsikan kesedihan juga kesenangan atas apa yang ku tangkap dari cerita orang banyak. Bukankah manusia suka dimengerti ? Sebab itu aku menuliskan keresahan yang temanku rasakan. Tulisan adalah satu dari sekian yang bersedia dijadikan tempat pelarian. Begitu, Gi.

Percakapan kita semakin sering berbalasan. Berlanjut di instagram, lalu kemudian berpindah ke line. Gi, dunia maya sangat berperan dalam pertemuan kita.
7 Juli 2017 silam, kau bilang kau ingin memposting fotoku di akun instagrammu. Jujur, Gi, sebenarnya aku tidak enak dengan siapapun yang sedang dekat denganmu. Tapi kau membantahnya, kau bilang hatimu sedang sendiri. Lalu kau berkata lagi, kau bilang kalau kau memposting fotoku di akun pribadimu itu tandanya kau ada niat ingin serius denganku. Saat itu, setelah membaca balasan pesanmu yang berisi demikian, bibirku senyum-senyum sendiri. Lalu aku menyetujui permintaanmu.

7 Juli 2017 berlalu, sorenya ketika langit sedang indah-indahnya, kau memintaku merespon pernyataanmu. Gi, saat itu, asal kau tahu, aku bingung sejadi-jadinya. Sudah ku bilang diparagraph ke tiga, bahwa inti dari kebingunganku adalah karena diriku yang masih belum berani membuka hati kembali, aku terlalu takut bermain-main soal hati. Maksudku, kalau akan berakhir sama seperti yang dulu, kenapa aku harus mau bermain api lagi? Bukankah terluka pada alasan yang sama akan berujung menderita? Sebab itu, aku berpikir panjang akan perjalanan ke depan. Gi, menurutku, usia kau dan aku bukan lagi usia main-main, memang belum begitu matang juga untuk terlalu diseriuskan, tapi bukankah setiap tahun manusia akan berkurang umurnya di dunia? Gi, dewasa adalah sebuah perjalanan menghadapi banyak kejadian. Aku memikirkan hal ini matang-matang, meskipun pikiranku masih sering ke kanak-kanakan, tapi untuk hal menjalin hubungan, aku sangat berhati-hati menaruh hatiku. Aku terlalu banyak belajar dari cerita yang ku dengar, tentang temanku yang ditinggal pergi ketika rasa sayangnya sudah dipuncak paling tinggi, tentang temanku yang sudah menjalin hubungan lama lalu diputuskan begitu saja karena alasan tidak mendapat restu orangtua, atau temanku satu lagi yang dipisahkan karena alasan berbeda cara berdoa. Sungguh, bercinta bukan hanya tentang bahagia.

Lalu, akhirnya, aku memutuskan untuk menerimamu masuk kedalam hati yang sudah lama asyik dengan sepi. Terlalu cepat memang, tapi kurasa, cinta tak butuh waktu lama untuk jatuh. Ku jawab pernyataanmu lewat postingan instagramku. Kau tahu apa yang ku rasa setelah itu? Senang tapi takut. Senang karena akhirnya aku punya seseorang yang ku harap bisa ku jadikan tempat bercerita tanpa pernah mengeluh akan cerita-ceritaku, senang karena akhirnya aku mendapat perhatian selain dari ibu dan ayahku, senang karena akhirnya ada yang bisa diajak berjuang bersama-sama. Ku rasa, puncak bahagia suatu hubungan adalah ketika banyak rintangan tapi tangan tetap berpegangan, tanpa melupakan apalagi meninggalkan. Alasan takutku cuma satu, Gi. Takut kau pergi ketika diriku sudah menaruh harapan banyak padamu. Gi, jangan sekali-kali mematahkan harapanku, ya. Kalau kau jenuh, tak apa, tapi jangan pergi begitu saja. Sebab, setiap hubungan akan mengalami hal itu, tapi setiap jenuh itu datang akan ada penyelesaian yang berujung kesepakatan tanpa menyakiti pihak yang nantinya akan merindukan.

Terimakasih telah bersedia mengetuk pintu hati yang telah lama terkunci. Sudah dulu, Gi. Surat berikutnya akan ku tulis disini juga. Sebab, terlalu banyak perjalanan yang harus ku kenang lewat tulisan.

Salam jatuh cinta, dariku; si puan yang hatinya sedang berbunga.

Selasa, 28 Maret 2017

Selasa, 14 Maret 2017

Tentang kepergian

Aku ingin bercerita.
Tentang puan yang ditinggal pergi tanpa permisi.
Tentang diri yang belum mampu melepas kepergiannya lebih jauh.
Tentang rindu yang makin hari makin menggebu.

Begini.
Ini tentang kepergian tuan, laki-laki si pemilik rambut sebahu, laki-laki yang banyak membuat tertawa dengan lelucon yang kadang tidak begitu lucu, laki-laki si penyimpan banyak cara untuk menghiburku; puan yang hidupnya ngeluh melulu, dan laki-laki yang sempat ku pastikan ia adalah yang tepat, tapi ternyata tidak juga. Memang, hidup itu apa-apa yang belum tentu.

*****

Ia memutuskan untuk pergi, sementara aku masih berharap ia kembali. Bodoh memang, tapi merelakan tak semudah itu, tuan.

Kemudian, ia pergi karena alasan untuk bisa memahami mereka yang membenci tentang kita, sedangkan aku ingin ia hanya selalu ada untukku. Egois memang, namanya juga terlanjur sayang.

Lalu, ia benar-benar berubah, sementara aku masih ingin ia yang dulu. Salah kalau aku rindu sikapmu kala pertama kali kita bertemu ? Tidak, kan?

Selanjutnya, ia memutuskan untuk melupakan, sedangkan aku masih betah dengan kenangannya. Lucu. Tapi melupakan tak semudah bahagia karena kenangan yang kamu buat, tuan.

Terakhir, ia pamit untuk meninggalkan, sementara aku terpuruk menyaksikan perjalanannya yang semakin lama semakin jauh.

Tubuhnya hilang, kenangannya belum.

*****

Hari-hari berlalu. Semakin mengingat kepergianmu, semakin sesak dadaku. Tetapi, semakin ingin melupakan, semakin itu pula kenangan kuat dalam ingatan.

Aku-susah-payah.
Aku-jatuh-terlalu-jauh.
Aku-elegi-patah-hati.
Melupakanmu, adalah definisi sakit yang harus segera disembuhkan. Secepatnya. Semoga mampu.

Terimakasih, kepergian.
Karenamu, malam hari terasa lain dari biasanya. Terlalu berat memang, tapi hidup tetap berjalan dengan atau tanpamu.

Selasa, 30 Agustus 2016

Selamat datang, mahasiswa baru.

Selamat datang, mahasiswa baru.
Selamat memijak di dunia lain, di dunia yang bukan lagi main-main, di dunia yang kau sebut asyik tapi nyatanya pergi ke tempat nongki saja tak berani.
Selamat belajar di tempat yang baru, di kursi layaknya bioskop kesayangan anda, di ruangan yang cukup untuk kau mengenal satu sama lain atau kalau kau mau mencari pengganti kekasih yang kau putuskan karna alasan “kamu terlalu baik buat aku”  ku rasa bisa saja, asal doa dan pendekatan yang apik yang kau beri.

Selamat mengenal banyak teman yang sifatnya tak lagi kekanak-kanakan, selamat berteman dengan anak rantauan yang merangkap anak kostan yang kalau tanggal tua sering mengkonsumsi promag dan jelly drink untuk penunda lapar. Tapi tenang saja, lapar mu akan menjadi indah.

Selamat datang di lingkungan baru, jangan kaget kalau tugas berkembang biak dengan cepat, jangan takut kalau presentase maju pertama kali, jangan sedih kalau kau tak paham ilmu akuntansi dan kawan-kawannya, jangan ngantuk karena sudah pasti waktu mu pertama kali masuk pagi dan pulang saat tenggelamnya matahari, dan yang terakhir jangan mengeluh karena sudah banyak titipan doa yang orantua pinta agar anaknya bisa menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia.
Selamat mencari pengalaman di Universitas Trilogi. Kau harus mencoba aktif di dunia organisasi dan unit kegiatan mahasiswa yang telah disediakan, karena sebagai mahasiswa kuliah-pulang-kuliah-pulang adalah hal yang monoton, adalah hal yang tidak dapat menunjukan kuliah-itu-asyik tapi tetap aja gak seasyik sinetron di televisi.
Selamat bergalau-galau ria ketika hasil Ujian Akhir Semester tidak sesuai apa yang kau inginkan, jika kau berusaha semuanya pasti bisa, kalau tetap tak bisa berarti ada yang kurang, antara kurang usaha atau kurang berdoa. Tapi, tenang. Semua akan baik-baik saja.

Terakhir. Selamat menempuh setiap perjalanan demi perjalanan selama 4 tahun atau lebih, menikmati setiap proses dari pengenalan kampus sampai kau resmi menjadi bagian dari almamater biru tua kesayangan pemiliknya, menikmati setiap kejadian dari yang lucu sampai kau lelah sendiri untuk melanjutkan cerita yang bukan lagi mimpi.
Selamat membuktikan kepada semua yang sudah percaya bahwa kau mampu pakai toga dan orangtua mu tak sia-sia mencari setiap lembar rupiah untuk biaya anaknya selama kuliah.

Sekali lagi, selamat datang mahasiswa baru. 

Selasa, 07 April 2015

Untuk Setenta Uno



Untuk teman seperjuangan;


Selamat membaca, kalian  pemakai seragam khas biru yang sebentar lagi pensiun.

Akan lebih syahdu jika membaca sambil mendengar lagu Sheila On 7 - Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Untuk kalian, Setenta Uno. Untuk sekadar kenang.

Hanya mengingatkan. Sebentar lagi yang benar-benar kehidupan baru dimulai. Tentang arti perjuangan, tentang arti kehidupan, tentang tak ada lagi rasa malas, rasa bodoamatan.
3 hari dibulan April nanti, perjuangan selama sekolah akan diperhitungkan. Sudah siap ? Harus siap ! Kita bisa !

 Satu bulan lagi masa putih abu-abu pergi, dan mungkin tak akan kembali. Kita akan mendatangi masa dimana kita akan berdiri sendiri. Tanpa genggaman hangat yang menguatkan, tanpa nasihat yang membangkitkan, tanpa senyuman yang mengobatkan.

Teman, jangan lupakan kenang.
Tentang kita yang susah-senang bersama, tentang hukuman yang diberikan guru, tentang keseruan saat perayaan hari lahir kepsek dan masih banyak ketentangan yang harus dikenang.

Teman, jika ada dendam diantara kita tolong dimaafkan dan dilupakan.
Maaf untuk setiap egois yang melukai hati kalian, untuk setiap kata-kata yang menggores luka, untuk setiap rasa mementingkan diri sendiri dan untuk kekhilafan apapun, tolong dimaafkan.

Teman, terimakasih untuk setiap kebahagiaan yang kalian berikan, untuk setiap cinta yang kalian tebarkan hingga antara kalian merasakan kasmaran-dilema-galau.
Terimakasih untuk setiap rasa peduli saat diri tak mampu lagi berdiri, untuk setiap lelucon yang kalian tampilkan saat hati lirih, saat hati putus dengan kekasih.

Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk selalu seperti hari ini. Masih dengan sosok masing-masing dengan sifat yang lebih baik.
Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk selalu meneruskan rencana, menggapai asa lalu bahagia atas semuanya.
Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk memperkenalkan anak-anak kita kelak, semoga mereka senang untuk selalu bersua bersama. Seperti kalanya kita.
Teman, nanti ketika ada waktu untuk bertemu lagi, berjanjilah untuk selalu mengenang akhir dari masa sekolah.

*****

*pesan; mari semangat lagi ! ingat pesan Ibu/Bapak guru. Selamat berjuang ditanggal 13 April nanti. Deg-degan, ya ? Sudahlah santai saja. Jangan takut. Ada tangan ada sikut. Bukan begitu burung perkutut ?hehe. Selamat belajar keras, kalian.

Kamis, 02 April 2015

Edelweis Untuk Edelweis


    Cahaya matahari masih setia masuk ke cela-cela jendela kamar milik perempuan bernama Edelweis Flora. Ia menyinari sepasang mata yang sayu akibat begadang menonton pertandingan bola kesayangannya. Cahaya memantul hidung mancungnya yang berminyak ketika kukuruyuk ayam membangunkan. Bibirnya menguap lebar sisa lelah semalam. Dan ia tampak cantik saat bangun pagi.

Ia melihat sekitar dinding kamarnya. Banyak foto bunga abadi dari kekasihnya. Ia menyukai bunga yang namanya sama dengan namanya. Edelweis.
Ia melihat lagi sekeliling kamarnya. Masih memperhatikan dindingnya. Banyak harapan yang dituliskan didinding kamarnya. Salah satunya adalah harapan untuk sembuh dari penyakitnya.

   Pagi ini bahagia menghampiri dirinya. Tim bola kesayangannya menang dari pertandingan semalam pun ada bahagia yang lain: ini hari jadi ia dengan kekasihnya.
Di setiap hari jadinya, biasanya pagi hari atau tepat jam 12 malam lelaki yang ia cinta datang kerumahnya. Mengetuk pintu kamarnya, lalu memberikan ia foto bunga abadi kesukaannya, pun senja dan matahari terbit kala menyapa puncak gunung manapun. Tapi tidak untuk pagi ini. Pagi yang seharusnya bahagia.


******
‘Elang kemana sih dari kemarin belum ngabarin, mau kasih kejutan kali ya, kan hari ini anniv dua tahun.’ Ia berbicara dengan kembarannya di cermin, menggerutu kesal karna lelakinya belum mengabarinya hingga kini.
Ia melihat handphone nya. Banyak notification ucapan selamat hari jadi dari temannya dan teman lelakinya. Tetapi, bukan ucapan dari temannya yang ia tunggu melainkan ucapan hari jadi dari kekasihnya. Tapi tidak ada.
Edel memutar music di laptop merah miliknya. Payung Teduh tentunya. Ia selalu suka dengan petikan gitar yang dialunkan vokalis, selalu nyaman dengan gesekan bass betot yang dimainkan pun alat musik lain yang menghadirkan perpaduan lagu yang membuatnya tenang.

Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan sedang berputar di laptopnya pun diingatannya. Ia ingat saat kekasihnya menyanyikan lagu itu dengan gitar saat hari jadi yang ke satu tahun. Memberikan foto edelweis tentunya.

Elang Malik adalah lelaki yang setia memberikannya foto bunga abadi kesukaannya. Ia adalah seorang pencinta alam dan pencinta perempuan yang menyukai bunga abadi itu.
Edel menghampiri foto yang tertempel didindingnya. Ia menjumpai satu foto yang disertai tulisan apik disana. Mengingat ingatan tentang foto itu. Foto itu adalah foto saat Elang menyatakan perasaan kepadanya, Elang memberikan ia seikat bunga edelweis yang ia beli di gunung bromo saat ia berkunjung kesana. Foto itu membuat ia senyum tersipu malu.

******
    Di tempat yang lain, Elang sedang memotret banyak foto edelweis untuknya. Menghampiri setiap edelweis. Gatal ingin memetik pastinya. Tapi ia urungkan niatnya itu.
Ia menulis satu paragraph di lembar foto hasil kamera polaroidnya itu. Di setiap foto untuk Edel ia selalu menyelipkan kata-kata disana. Kali ini ia juga menuliskan satu surat untuk Edel.

******
‘Pokoknya harus cantik.’ Edel mengenakan kemeja hitam pemberian almarhum Ibunya, menyelimuti bibir pucatnya dengan lipstick. Memoles wajahnya agar tidak kelihatan seperti orang sakit. Ia tampak cantik.
Tanpa pesan terakhir dari Seventeen sedang memutar dilaptopnya. Ia diam seketika. Tak tahu ada apa.
Hidup terlalu singkat untuk ceritaTentang kau dan akuKau pergi tanpa pesan terakhirDariku yang menyertaimuKau selalu ku kenang
'tok, tok, tok.’ ada yang mengetuk pintu rumah Edel.

‘pasti Elang.’ Ia berlari menuju pintu rumah dengan senyum yang sumringah.
Benar itu Elang. Ia tampan mengenakan baju putih, tapi ia tampak bercahaya.
Elang berdiri didepannya, memberikan bunga dan amplop hitam. Dengan senyuman yang selalu ada di sudut bibirnya. Tapi, ia tidak berkata apapun.
Lalu ia pergi, meninggalkan Edel yang masih melamun di depan pintu coklat rumahnya.

Saat kau langkahkan kakimu tuk tinggalkankuDan kau pergi jauh untuk selamanyaHingga bayangmu pun tak mampu ku lihat lagiKini kau tlah pergi jauh untuk selamanya

‘Elang ?’ Edel tersadar dalam lamunanya. Ia masih terpaku didepan pintu.
Bait kedua lagu berputar. Terdengar sampai depan pintu. Edel menangis tanpa aba-aba. Air mata mengucur saat bayang Elang tak mampu dilihatnya.
Perasaan ini sama ketika Ibunya meninggalkannya.

Ia membuka amplop hitam pemberian Elang tadi, berisi 1 surat, 2 lembar foto edelweis dan 2 lembar senja di puncak gunung semeru.

Del, jangan marah ya aku pergi gak pamit hehe.aku mau cerita sedikit del, tentang perasaan ku mendaki di Semeru. Kau harus tau rasanya del, seru sekali, menantang saat mau tiba dipuncaknya. Kau pernah menonton film 5cm itu, kan ? iya del aku sudah beberapa kali tertimpa batu besar saat merayap untuk mendaki. Kepalaku bocor del, wajah ku penuh luka. Pasti kau kagum dengan ku, kan ? sudahlah del ngaku saja.Oiya, Del tapi ada yang aneh dari diriku del, perasaan ku tidak seperti biasanya del. Biasanya kalau aku mendaki dan sampai di puncaknya aku selalu senang apalagi ketika aku asik memotret banyak edelweis untuk mu. Tapi kali ini perasaan ku lain, del. Aku khawatir dengan diriku sendiri. Seperti takut untuk tak bisa jumpa lagi dengan mu. kalau aku berkumpul dan menyusul Ibu dan Ayah mu kau tak cemburu, kan ? jangan cemberut begitu del. Senyumlah!kau harus seperti bunga yang sama dengan nama mu; mekar dan abadi di tempat yang kalau ingin disinggahi harus dengan hati. Kau harus selalu tumbuh dengan keindahan mu, del.barangkali ini foto edelweis terakhir untuk mu del. Usap air mata mu, del. Bunga Edelweis tak pernah menangis saat pendaki meninggalkannya.Oiya del, maaf aku belum sempat mengajakmu mendaki bersama , kau simpan dulu kemauan mu, kalau kau sudah benar-benar sembuh kau pasti bisa mendaki, bahkan puncak gunung yang tinggi sekalipun. Kau kan perempuan tangguh. Siapa dulu kekasihnya aku hehe. Selamat Hari Jadi, del. 

Air mata Edel makin deras mengucur, tangannya gemetar membaca surat terakhir pemberian Elang. Ia tak sanggup menyeka air matanya. Biasanya kalau ia menangis seperti ini Elang lah yang mengusap air matanya dengan penuh rasa. Tapi, kini sosok itu pergi.

‘tok, tok, tok.’ Ada suara ketukan lagi dipintu rumah Edel.
Edel menghampiri pintu rumahnya dengan air mata yang masih mengalir dipipi.
‘Del, Elang udah gak ada. Dia terguling saat hendak turun gunung. Kepalanya terbentur batu besar del, jasadnya sedang dijalan pulang.’ Teman Elang menjelaskan dengan tatapan kasihan.
Tubuhnya berdiri kaku, seperti tak bernyawa tapi bisa merasa, seperti tak percaya dengan ini semua,
Ada yang hilang dalam hari-harikuSaat tak bersamamuKau selalu ku kenang dan selalu ku kenang

Lirik Seventeen mengingatkannya lagi. Ada yang hilang dalam harinya dan hatinya.
Tangisan Edel semakin deras mengalir, ketika membaca satu kalimat yang ditulis difoto edelweis terakhir pemberian Elang.

‘kau bunga abadi yang selalu dihati: aku-cinta-kau.’
‘kau yang sudah pergi dan tak mungkin kembali: aku-juga-mencintai-kau. Dengan sangat.’
******