Rabu, 12 Juni 2019

Selamat Hari Al Sedunia

Hallo, Al.
Sudah lama rasanya tidak menyapamu dengan tulisanku. Semoga kau dalam keadaan baik-baik saja, sebab kemarin kau berkata "sakit adalah sahabat karib dari seorang aku". Tak apa, sakit adalah penggugur dosa, banyak doa untuk menyembuhkannya.

Al, akhir-akhir ini pertengkaran menjadi masalah kita setiap hari. Seperti tak ada cela untuk mengucap sayang sama-sama. Padahal esok adalah hari ulang tahunmu, dan tentu saja tanggal kesukaan kita. Masa kau tak ingin merayakannya denganku? Kali ini saja ku pinta, tolong simpan ego dan kesalmu untuk sehari esok. Aku ingin mengistimewakan hari lahirmu dengan caraku. Dengan sedikit perayaan sederhana atas ucap syukur kepada Tuhan karena telah menghadirkan laki-laki yang menyebalkan tapi penuh kejutan, laki-laki yang punggungnya berisi banyak beban tetapi mampu dilewatkan, laki-laki tegar yang hidupnya keras sekali, dan tentu saja, laki-laki yang membuatku jatuh cinta berkali-kali.

Al, mari mengucap syukur atas usiamu yang genap ini. Berdoalah banyak-banyak, pinta segala hal yang ingin kau gapai, selipkan usaha didalamnya. Sebab doa tanpa usaha adalah kosong, usaha tanpa doa adalah sombong. Seimbangkanlah keduanya, Al. Aku selalu mengamini permintaanmu kepada Tuhan, atau bahkan turut mendoakan bahagiamu.

Al, selamat mengulang tahun untuk ke 24 kalinya. Semoga sehat senantiasa hadir ditubuhmu, diberikan nikmat yang cukup untuk menikmati hidup, bersikaplah dewasa sebagaimana usiamu semakin menua, perbaiki yang buruk, pertahankan yang baik. Jangan jauh dari Tuhan ya, Al. Nanti Tuhan malas mengabulkan doa kau. Jangan bertahan dengan egomu yang keras itu, lunaklah sedikit saja.

Selamat bertemu di 13 Juni yang berbahagia ini.

Semoga semesta memberimu banyak bahagia.

Aku mencintaimu, selalu.

Jumat, 26 April 2019

Dia, banyak berubah

Halo, Al.
Sedang apa?
Akhir-akhir ini waktu tersita banyak untuk pekerjaanmu. Semalam tadi kau minta dibanguni jam empat pagi karena hendak keluar kota hingga lusa nanti.

"Ada kerjaan di mana?"
"Sumedang"

Singkat sekali perbincangan kami. Memang beberapa hari ini cuaca buruk sedang menghampiri kami. Rasanya setiap kata yang kami ketik di layar kaca hanya akan menghadirkan pertengkaran saja.

Sebenarnya aku ingin sekali memelukmu. Menangis sampai sesegukan di dadamu yang tidak terlalu bidang itu. Aku ingin menceritakan kau di depan kedua bola matamu, walau pada kenyataannya aku tak pernah berani untuk melakukan itu. Aku takut. Nanti kau marah dan memilih pergi sampai aku kelimpungan mencari kabarmu kesana-kemari. Tapi, Al, aku ingin memberitahu banyak hal yang berubah darimu, setidaknya dalam kurun waktu seminggu itu.

Al, rasanya sedih sekali ketika seseorang yang kita harapkan bisa menjadi penenang kala kalut itu datang, tetapi seseorang itu tidak bersedia untuk melakukan hal demikian.
Pun sama sedihnya ketika sulit-sulit yang ku alami hanya aku yang menuntunnya sendiri, mencari jalan keluar, mengurusi banyak hal dari skripsi yang ku buat dari awal lagi, adikku yang kuliahnya harus aku yang menangani, mencari keperluan gambar sampai harus kehujanan berkali-kali, belum lagi orangtua yang kadang tidak mengerti bahwa lelahku adalah manusiawinya manusia.

Sudah berapa kali aku menangis, Al. Menjadi cengeng adalah aku akhir-akhir ini.
Aku merasa tak pernah ada seseorang yang mampu mengertiku. Aku hidup dengan lingkungan yang dipenuhi banyak orang. Teman punya, kekasih juga, tetapi kemana perginya mereka? Kemana perginya kau? Lalu akhirnya aku tiba pada satu kesimpulan, bahwa sebenarnya tak pernah ada yang mengertiku selain diriku sendiri. Tak pernah ada yang bersedia membantu selain kerja keras diriku sendiri, dan tak pernah ada orang lain yang bersedia untuk setidaknya mendengarkan resah-resahku tanpa menghakimiku, tanpa memarahi kelemahanku.

Maaf, Al. Aku tidak bermaksud menyindirmu. Aku tahu betul hidupmu tidak melulu tentangku. Ada banyak hal yang harus kau urusi selain mengurusi kemanjaanku, selain mengurusi berlebihannyaku, katamu. Tapi, Al, kau tahu betapa perempuan butuh diberi kesenangan, sesederhana ditelepon tiba-tiba lalu menceritakan apa saja sampai akhirnya tertawa juga, sesederhana diajak bertemu tanpa harus aku yang mengemis waktumu, sesederhana diusap kepalanya saat cemberut itu tiba, sesederhana dikuatkan hatinya tanpa ucapan yang membuatnya menyerah. Al, sudah lama sekali aku tidak menemukan itu di dirimu.

Aku ingat betul awal-awal aku dan kau menjadi kita, saat itu aku marah entah karena hal apa, yang aku ingat kala itu adalah usahamu meneleponku berkali-kali sampai enggan beranjak dari gang rumahku setelah mengantarku pergi, kau hanya minta dimaafkan atas kesalahan yang sepele sekali.
Kemudian satu lagi yang ku ingat atas usahamu membuat senyum di bibirku, adalah ketika pertemuan kita tak cukup sekali, saat itu kau mengajakku bertemu hampir seminggu 3 kali, ketika ku tanya mengapa, kau hanya menjawab "aku cepat kangen sama kamu".
Ada lagi yang membuat diriku seraya berada pada langit paling tinggi, adalah saat di mana kita berbicara berdua, lalu tiba-tiba wajahmu menatapku tanpa berkedip, kau menjawab tanpa ku tanya "aku senang lihat kamu tertawa".
Al, aku rindu dengan hal-hal sederhana yang membuatku bahagia dengan cara yang istimewa.

Tak apa, Al. Seperti kataku tadi, hidupmu tidak melulu tentangku. Aku hanya belum siap kerepotan sendiri. Tenang saja, Al. Serumit apapun masalahku semua akan ku selesaikan tepat waktu. Tanpamu, aku rasa aku akan segera terbiasa.

Selamat bekerja, Al.
Cari uang yang banyak. Katanya kau ingin membeli sesuatu? Jangan lupa mahar untukku ya, Al hehe.

Senin, 24 Desember 2018

Hilangmu, kalutku.

"Al, sedang dimana?"

Al, aku tak suka dibuat khawatir, dan kau tahu itu. Tapi, Al, mengapa khawatirku masih tentangmu? Mengapa hilangmu masih membuat pikiranku hanya memutar namamu? Mengapa setiap janji yang kau ucapkan selalu kau ingkari hanya untuk egomu sendiri?

Al, di dunia ini masalah bukan hanya berpihak pada kita, semua manusia punya. Berat, katanya. Tapi ada hal-hal yang membuat beban terasa ringan. Teman bercerita, telinga yang bersedia mendengarkan keluh kesah, bahu yang siap disandarkan oleh lelah-lelahmu, juga saran yang memang tak begitu membantu, tetapi mampu menenangkan kalutmu. Al, aku bersedia untuk semua itu.

Al, hilangmu adalah sebaik-baiknya sedihku. Tak tahu mengapa air mataku selalu menangisi kepergianmu, bahkan untuk kesekian kali kau melarikan diri, mataku tetap sembab disetiap pagi. Hari-hariku murung tanpa perbincangan kita, dan dini hari adalah waktuku untuk meminta denganNya, doaku masih sama; Tuhan, jaga ia.

Al, kalau ku bisa, aku ingin sekali memukulmu dengan pukulan paling keras dan paling menyakitkan. Aku ingin melampiaskan kemarahanku selama menunggumu. Aku ingin berteriak didepanmu, atau bahkan mengecap kau sebagai laki-laki brengsek yang selalu mengecewakanku. Aku ingin berkata apapun dihadapanmu, memberi pertanyaan paling bedebah di seumur hidupku. "Al, salahku dibagian mana? Mengapa selalu aku yang dibuat sedih sementara kau tidak berniat untuk peduli?"

Sudah berapa banyak luka yang kau gores di hatiku, Al? Lalu, sudah berapa sabar yang kuberikan padamu? Apa yang kurang dari semua itu? Beritahu aku, Al. Aku ingin tidur malamku tentram, tanpa memikirkan kehilanganmu. Aku ingin hari-hariku senyum, tanpa tangis didalamnya.

Al, baiklah kalau itu mau mu.
Pergilah sejauh yang kau mau, nanti saat dirimu butuh tempat merebah, tengoklah ke belakang, disana ada aku yang menyediakan bahu untuk kepulanganmu.

Kamis, 25 Oktober 2018

Untuk embun yang sejuk

Hallo, embun. Ibu bilang itulah arti nama adik kecilku. Ibu memberinya nama Nada Shofiyah, disana, dinama itu, ibu menginginkan anak perempuannya tumbuh sebagaimana layaknya embun yang memberi kesejukkan. Memberi sejuk untuk semua orang, tentu saja. Semoga harapan-harapan ibu dan ayah tentang namamu dapat kau wujudkan ditengah-tengah hidupmu.

Nada, semoga kesehatan selalu melindungi tubuh mungilmu. 6 tahun sudah perjalananmu menjadi santriwati yang jauh dari penglihatan kami, segala doa selalu kami sebut untuk keberadaanmu, semoga doa-doa yang kami terbangkan untukmu terwujud seperti harapan-harapan kami disana.

Kakak menulis ini dalam keadaan lelah sehabis sehari penuh menghadapi mata kuliah yang penuh dengan angka-angka. De, seperti halnya orangtua menghidupi kita, seberapapun lelah menghampiri hidupnya, nafkah harus tetap tersedia untuk keluarga. Jadi, kalau lelahmu memuncak, teruslah bertahan, sebab disana terlihat wajah ibu dan ayah menunggu keberhasilan kita. Kalau Nada mengira kakak selalu bisa hidup prihatin dari pada Nada, kau kurang tepat. Kakak hanya selalu mengingat banyak hal yang terjadi diluar kemauan kita yang harus tetap kita syukuri keberadaannya. Hidup kita sederhana, tugas kau hanya perlu mensyukuri apa yang telah diberikan Allah melalui jerih payah ayah dan ibu dalam menghidupi kita. Disetiap perjalanan yang kita lewatkan, disetiap pendidikan yang kita tempuh, disetiap kesulitan yang menemukan celah untuk menjadi mudah, percayalah, ibu dan ayah selalu ada dibelakangnya. Dibelakang kita, menguatkan pundak-pundak yang mulai ingin menyerah, memeluk lelah-lelah yang entah sudah berapa keluhan kita lontarkan dengan paling pasrah, medoktrin telinga kita agar tumbuh sesuai dengan nasihat baiknya, dan banyak hal yang ibu dan ayah turut bantu selama usia kita bertambah di dunia.

Bersyukurlah tanpa menuntut apapun yang tersedia didunia tetapi kita tidak bisa memilikinya.
Bersyukurlah karena terlahir dari keuarga sederhana yang mampu membahagiakanmu dengan cara-cara yang istimewa.

Nada, selamat bertambah usia. Tetaplah rendah hati walau usiamu semakin meninggi. Jadilah manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. Sebab, sayang, hiduplah dengan kejadian-kejadian yang berguna, untuk dirimu, untuk orang lain disekitarmu.

Kakak berimu hadiah, sangat sederhana, hanya berupa buku catatan harian dan bolpoin teman sejalan. Nada tahu mengapa hadiahnya demikian? Buku catatan dapat kau gunakan untuk menulis setiap perjalanan panjangmu. Jadikan ia teman cerita kala telingaku jauh dari keberadaanmu. Nanti setelah kau lulus sekolah, kita akan semakin jarang berjumpa. Kakak akan bekerja lalu menikah nantinya, sedangkan kau akan sibuk kuliah dan menjadi mahasiswa. Sebab itu kakak hadiahi kau buku, agar ketika kau menjumpai banyak kejadian kau dapat menjadikan ia teman ceritamu. Menulislah apa yang membuatmu resah, tulisan itu, asal kau tahu, ia dapat menjadi pelampiasan untuk setiap keadaan. Nanti ketika lembar terakhir sudah penuh terisi, berikan buku itu kepadaku. Sebagai kakak yang tidak menyaksikan fase-fase remajamu, kakak ingin mengetahui perjalananmu menuju tingkat yang lebih dewasa. Kakak ingin melihat seorang Nada dari cerita-cerita kesehariannya. Oh ya, juga ada bolpoin disana, tentu saja warnanya merah muda. Ia masih menjadi warna kesukaanmu, kan? Bolpoin itu dapat kau gunakan untuk apapun. Satu yang pasti; jadikan setiap goresan tintanya menulis hal-hal yang berguna.

Maaf tidak bisa hadir di ulang tahunmu. Semester tujuh membuatku sulit mengatur waktu. Tugasku seperti ada seribu dan harus dikumpulkan setiap penghujung minggu. Kakak lelah, tapi tidak mengurangi semangat yang kakak punya. Sekali lagi, selamat mengulang tahun, Nada. Semoga usia menjadikan kau manusia yang berguna-untuk segalanya.

Salam rindu, untukmu, selalu.

Jumat, 03 Agustus 2018

Terimakasih untuk jarak dan waktu yang telah mengajarkan cinta dan rindu

Adakalanya jarak dan waktu menjadi dua hal yang menyesakkan dan melelahkan. Begitu juga yang terkadang kami rasakan, ketika dua orang yang saling mencintai harus menerima takdir bahwa jarak pandang mata kami terentang ratusan kilometer jauhnya.

Lima bulan kami harus meredam rindu, berusaha melipat jarak dengan surat-surat juga puisi-puisi yang setiap katanya dipetik dari mimpi dan imajinasi.

Kemudian kami pun menyadari sesuatu, bahwa ternyata memang selalu ada rindu yang harus menunggu.

Tak ada yang bisa kami lakukan selain saling menguatkan, meski seringkali juga ada tangis keputusasaan. Kami memang harus bersabar pada waktu, juga jarak yang menebar rindu.

Kata orang, pasangan yang menjalani kasih jarak jauh memiliki cinta yang tangguh. Kami tak tahu apakah itu benar ataukah tidak, kami menganggapnya sebagai doa bahwa kami bisa tetap tegak berdiri ketika badai benar-benar menghampiri.

Ada ratusan mimpi yang kami bagi bersama, dan ribuan harapan yang akan kami perjuangkan. Tentang rumah penuh buku-buku, tentang puisi-puisi dan cerita yang tersebar ke seluruh dunia.

Tak sedikit orang yang ragu dengan mimpi jika kelak kami bisa bersama. Namun, kami selalu percaya bahwa Tuhan selalu berpihak pada manusia yang selalu tulus berdoa, serupa kami yang saling menyebut nama dalam doa.

Lima bulan mungkin waktu yang sebentar untuk menjalin kasih, bukan juga waktu yang lama untuk kami saling memahami dan saling mengerti, karena terkadang kami pun masih diselimuti egois diri.
Seringkali kami ingin melangkah pergi dan saling meninggalkan, tapi kami selalu sadar bahwa sebuah kepergian hanya akan menciptakan luka yang dalam.

Kami sudah melewati banyak jalan, menelusuri lorong-lorong ruang waktu demi mencari tahu apa makna cinta, ketulusan, dan kesetiaan. Bukan hanya taman dengan bunga harum bermekaran yang pernah kami lalui, tapi kami juga seringkali melewati hutan sepi yang menciptakan ketakutan sehingga membuatku ingin terus berlari. Sudah tak berbilang berapa banyak luka yang sudah tersayat, juga berapa banyak air mata yang mengalir.

Kami selalu berusaha berteman dengan hujan, juga berusaha untuk mengakrabi badai hingga terkadang kami merasa lelah jika harus berjalan lebih jauh lagi.

Namun, ada satu hal yang selalu kami rapalkan seraya saling menggenggam harapan, ‘Kita akan lalui semua bersama’.
Banyak orang yang seringkali berkata sumbang tentang cinta kami, bahwa jarak akan meruntuhkan segalanya.
Namun, kami berhasil melewati semua dan membuktikan bahwa kekuatan cinta dapat membuat doa kami dikabulkan Yang Kuasa.

"Kami bukanlah pasangan yang sempurna, karena kami adalah sepasang puisi yang masih belajar untuk saling memahami, jika salah satu dari kami pergi, kami tinggal huruf yang kehilangan arti."

Terima kasih kepada jarak dan kepada waktu yang mengajarkan kami tentang cinta dan rindu, dan terima kasih kepada Dia yang memiliki kuasa melapangkan jalan yang berliku.

*****

Tulisan ini dibuat oleh lelaki saya. Terlalu banyak kejutan yang saya dapati selama menemani waktu dan hari-harinya. Terlalu banyak hal-hal diluar dugaan yang selalu membuat saya tertawa kegirangan. Selamat melanjutkan perjalanan, Ali. Semoga jarak dan waktu selalu bisa diajak kompromi. Semoga kami selalu bisa saling memaklumi. Semoga cinta senantiasa hadir ditengah hari-hari kita.

Amin.

Sabtu, 21 Juli 2018

Malam ini, kami menikah.

Jam 11 malam lebih 15 menit. Seperti malam-malam kemarin, ia selalu ingin melihat wajahku sebelum tidur.

"Video call yuk, sebentar aja, aku mau lihat kamu hari ini." Ucap ia ketika kabarnya baru saja sampai rumah setelah lelah seharian berkerja.

"Yuk." Aku selalu ingin menuruti permintaannya yang satu ini. Sesekali aku yang mengajaknya video call. Sebentar saja, untuk sekadar melihat ia baik-baik saja pun untuk melelapkan rinduku di penghujung hari-untuknya.

"Sebentar ya, aku pakai gincu dulu." Ucapku sembari beranjak dari kursi kemudian mencari tas kecil berisi alat make up seadanya.

"Emangnya harus banget gincuan? Kayak gitu aja, aku suka kamu yang alami, tanpa sentuhan apapun." Ia bilang, sederhana adalah alasan ia jatuh cinta kepadaku.

"Nggak mau, aku mau terlihat cantik didepan kamu." Jawabku.

"Udah malam, masa mau tidur gincuan, sih?" Tanyanya sembari mengerutkan dahi.

"Ngga apa-apa, nanti kalo ketemu kamu di mimpi, aku udah cantik, jadi nggak malu." Jawabku lagi, sembari tertawa kecil.

Kau tahu mengapa aku ingin terlihat cantik didepan mu? Ingin ku satu, ketika kau melihatku, kau selalu ingin jatuh lebih dalam untuk cinta yang hanya tertuju kepada seorang aku.

*****

"Udah gincuannya?"

"Udah hehe"

"Tadi seharian ngapain aja?" Seperti biasa, ia selalu menanyakan keseharianku.

"Pagi kuliah, sampe rumah jam 5, ini baru selesai ngerjain tugas." Akupun selalu menjelaskan kegiatanku yang itu-itu melulu.

"Kalo kamu ngapain aja?" Seperti ia, aku juga ingin tahu kesehariannya.

Menurutku, usia kita berdua bukan lagi usia yang ketika bertukar kabar hanya menanyakan sudah makan belum secara berulang-ulang. Tanpa ditanyakan, kita selalu tahu kapan kebiasaan-kebiasaan itu akan dijalankan. Tanpa diingatkan, ku rasa makan adalah satu hal yang jarang sekali orang lupa. Aku lebih suka ketika ditanya seharian melakukan apa saja, lalu bertukar cerita tentang apapun, sambil memandang wajah lelahnya, tentu saja.

"Aku tadi di tempat kerja ngobrol sama teman yang udah nikah." Katanya ketika hendak bercerita.

"Iya? Terus?" Tanyaku menunggu kelanjutan ceritanya.

"Teman aku di kantor semuanya udah nikah, aku aja yang belum. Ada yang punya istri 4 malah."

"4? Serius kamu? Berarti dalam sebulan dia pindah rumah 4 kali ya?" Aku dengan nada sedikit kaget.

"Iya haha." Jawabnya sembari tertawa.

Akupun mengikuti irama tertawanya.

"Aku sih nggak mau tuh di madu, sampai 4 kali coba. Kok bisa ya istrinya sesabar itu? Aku lihat kamu dichat teman cewek aja langsung panas haha." Aku memang perempuan pencemburu, pada perempuan manapun yang didekatnya selain ibu, nenek, dan saudara perempuannya.

"Cinta, namanya." Jawabnya singkat sebelum menjelaskan lagi.

"Tapi, cinta nggak pernah rela dibagi dua." Ucapku mengutarakan pendapat.

"Sayang, cinta memang sewajarnya cuma satu. Tapi kalau sudah cinta apapun dilakukan untuk melihat dia bahagia."

"Walau hatinya tersiksa?" Tanyaku tetap dengan pendapatku.

"Mungkin begitu."

"Nggak bisa gitu, kalau tersika kenapa tetap dilakukan? Terus kamu ada niat buat punya 4?" Tanyaku lagi, kali ini dengan nada sedikit beda.

"Aku ngurus kamu yang satu aja udah repot." Jawabnya sembari meledekku.

"Ih nyebelin."

"Aku lihat teman-teman nikah, jadi pengen cepat nikah, tapi butuh biaya banyak, belum punya rumah juga. Kalau 2 tahun lagi, bagaimana?" Untuk ketiga kalinya ia menanyakan perihal demikian.

"Udah siap? Mentalnya? Materinya?"

"Siap. Kalau nunggu siap nggak akan pernah siap." Jawabnya singkat.

"Kamu nikah itu mengejar apanya?" Tanyaku ingin tahu maksudnya.

"Umur semakin lama semakin tua, aku butuh teman hidup, untuk banyak hal; ngurusin aku, ngatur uang aku, nemenin aku ngopi tiap pagi, kalau selesai kerja ada seseorang yang nunggu aku pulang. Aku pingin lengkap, pelengkapnya ada di kamu. Aku pingin satu, sama kamu."

"Nikah ngga gampang, ya. Butuh biaya banyak, belum lagi beli rumah buat kita berdua, sewa gedung, catering, atribut nikah." Ia mengutarakan keluhannya.

"Ada yang lebih sulit dari yang kamu sebutin tadi."

"Apa?" Tanyanya penasaran.

"Kepercayaan ibu dan ayah kasih aku untuk kamu jaga."

"Lalu, apalagi?"

"Yang terakhir tapi bukan yang paling akhir; setia."

"Hmmm." Raut wajahnya terlihat lebih serius dari 5 menit yang lalu.

"Setia itu pekerjaan yang terdengar gampang, tapi sulit dilakukan."

"Kenapa begitu?" Ia tetap bertanya, dan aku tetap menjelaskan.

"Begini, kalau sudah nikah, setiap hari setelah bangun tidur selalu lihat wajah aku, sebelum tidur pun begitu. Satu rumah dengan perempuan yang ngambeknya merepotkan mu itu nggak mudah. Disana, dirumah kita nanti, tinggal dua manusia yang isi pikirannya berbeda. Beradu pendapat akan selalu ada. Nanti, ada masanya kamu lelah setelah pulang kerja, ada aku yang egonya ingin dimengerti. Atau kita balik situasinya, nanti ada masanya ketika aku lelah urus rumah, ada kamu yang rewel meminta egomu dituruti. Belum lagi pertemuan kita dengan orang-orang baru yang mungkin lebih menyenangkan ketimbang aku, yang menawarkan kenyamanan berupa godaan. Selalu ada masa-masa menyulitkan ketika membangun sebuah rumah tangga." Jawabku menjelaskan panjang-lebar.

"Memang. Kekuatannya ada di cinta." Balasnya dengan singkat.

Ia memang laki-laki yang irit bicara. Kata-katanya sedikit tetapi mengandung makna yang banyak. Ia selalu membuatku penasaran apa yang akan diucapkannya kemudian.

"Sayang, alasan aku menyatakan perasaanku kepadamu adalah cinta yang berawal dari kenyamanan. Aku tak peduli pertemuanku dengan orang lain selain kamu. Orang lain mungkin saja menawarkan kenyamanan yang lebih, pun ada masa dimana kita sama-sama bosan dalam hal apapun yang kita lakukan berdua. Tapi, aku selalu percaya yang berjuang lebih awal. Aku selalu ingin kamu dengan apa-apa yang telah kita perjuangkan. Sampai ditahap ini, aku tak pernah salah kalau kau perempuan yang sabarnya ikut ambil alih dalam perubahan-perubahanku. Aku memilihmu karena ada satu ruang kosong didiriku yang isinya hanya terletak di kamu. Aku siap menjadi suamimu karena telah ku lihat upaya-upayamu dalam mencintaiku." Ia menjelaskan kelanjutan ucapannya.

Aku menatapnya dengan bangga. Ada perasaan bahagia ketika mendengar alasan ia ingin menjadikanku yang terakhir di hidupnya.

"Kapan kamu siap?" Tanyanya membangunkan lamunanku.

"Kalau aku udah bisa mengendalikan egoku sendiri, kalau aku udah bisa masak, kalau aku udah sepenuhnya bisa memahami kamu."

"Akan ku tunggu." Katanya sembari tersenyum.

Perbincangan yang menyenangkan. Perihal kesiapan menghadapi masa depan.

"Lalu, kapan kita menikah?" Pertanyaan terakhirnya sebelum menutup telepon diujung sana.

"Malam ini, di mimpi kita masing-masing."

Kemudian perbincangan kita berakhir pada jam 1 malam.

Jumat, 13 Juli 2018

Perkenalkan, ia tuanku.

Tepat 5 bulan lalu aku memutuskan untuk sembuh dari patah hati yang mengurungku seorang diri, memberanikan diri melangkah dari trauma yang membuatku malas membuka hati. Aku telah banyak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan perihal cinta dan mencintai, terlalu takut untuk memulainya kembali, dan terlalu banyak luka hati yang bosan ku sembuhkan sendiri.

Namun, pada saatnya, tepat ditanggal 13 hari ini aku menemukan ia dengan sosok yang sulit diterka. Pertemuan kita sebenarnya adalah kenyataan yang tidak terduga. Sosial media mempertemukan kita. Lucu sekali. Dimana dua manusia yang belum pernah bertatapan mata tapi sudah jatuh cinta. Dunia kadang mempertemukan seseorang dengan cara yang tidak masuk dipikiran. Tak apa. Hidup memang apa-apa perihal kejutan.

Awal ku mengenalnya, ia adalah seseorang yang tertawanya sulit sekali ku dengar, sempat ku berpikir aku dan ia terlalu banyak berbeda selera. Aku adalah seorang perempuan yang mudah sekali menertawakan suatu hal, sedang ia adalah seorang laki-laki yang lebih senang mendengarkan segala macam kerewelanku dalam menceritakan sesuatu.

Ia adalah laki-laki yang kutemui ketika hendak menyembuhkan luka dihatinya sendiri, laki-laki yang menyapaku lalu berusaha untuk tetap maju sampai waktu yang menjadikan aku dan ia bersatu, laki-laki yang memberi musim semi pada hati puan yang telah lama mengalami musim kemarau berkepanjangan, laki-laki yang jika didekatnya aku merasa aman, laki-laki yang menyebalkan dengan tingkahnya yang selalu ku rindukan, laki-laki yang cemburunya menggemaskan, laki-laki yang jika menginginkan sesuatu selalu berusaha untuk dituju dan banyak lagi alasan mengapa aku menjadikan ia laki-laki kedua dihidupku setelah ayah.

Untuk kau, laki-laki yang ku cintai; terimakasih telah menjadikanku pelabuhan terakhir atas lika-liku pelayaran yang banyak kau lewatkan. Aku mencintaimu sampai nanti, sampai tubuh berubah menjadi debu.